Po shfaqen postimet me emërtimin feature. Shfaq të gjitha postimet
Po shfaqen postimet me emërtimin feature. Shfaq të gjitha postimet

e diel, 17 qershor 2007

Gender


tulisan untuk menyambut hari perempuan sedunia. tulisan gue ini ada yang bilang provokatif....gue ga tau provokatif dimana.
gender...??!


SETELAH LIBERTY, EQUALITY DAN FARTERNITY, PERLUKAH FEMININITY?
Oleh Gusti Nur Cahya Aryani
"Mari Rayakan Femininitas" adalah sebuah slogan yang diusung beramai-ramai oleh para perempuan sedunia pada peringatan Hari Perempuan se-Dunia, 8 Maret 2005.
Setelah tiga sandi "Liberty, Equality, Fraternity" (kebebasan, kesetaraan dan persaudaraan), tampaknya para perempuan berencana untuk menambahkan istilah Femininity. Diakui atau tidak problema yang melingkupi perempuan di berbagai belahan dunia memang masih seputar pada permasalahan bias gender dan persamaan hak.
Kabarnya di negara sebesar dan semaju Amerika Serikat pun perempuan belum mampu berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan pria di berbagai bidang kehidupan. Hal tersebut antara lain terlihat dari bayaran aktris utama yang kabarnya masih berada di bawah pendapatan seorang bintang utama pria, padahal terkadang sang aktris harus melucuti pakaiannya dalam film, hal yang jarang menimpa para aktor. Dan ironisnya terkadang justru hal itulah yang membuat sebuah film laku keras di pasaran.
Terlebih lagi di dunia ketiga, di mana tindak kesewenangan terhadap perempuan lebih sering dijumpai sebagai suatu bentuk perlakuan diskriminatif yang cenderung mengarah pada kejahatan secara fisik.
Bukan hal yang baru apabila ketika dua kelompok atau negara bertikai maka anak-anak dan perempuan adalah korban terbesar yang jumlahnya seringkali dilupakan.
Entah berapa banyak anak-anak dan perempuan yang menjadi korban dalam peperangan atau menerima pelecehan secara fisik selama perang dan namanya tidak pernah terukir dengan tinta emas di tonggak-tonggak peringatan korban perang. Nama-nama itu seakan terlupakan karena mereka tidak bangun mengangkat senjata seperti para pria yang berjuang di medan laga.
Manajer Program dan Redaktur Jurnal Perempuan, Yayasan Jurnal Perempuan Jakarta, Mariana Amiruddin menyebutkan, mau tidak mau semua pihak mengakui jika potensi feminin dan maskulin ada pada setiap jenis kelamin, jika dalam berbagai zaman selama ini femininitas dianggap tak berdaya, sedangkan maskulinitas berkuasa di mana-mana.
Oleh karena itu, mengembalikan dunia pada "diri" pun menjadi tumpuan generasi sekarang dalam perjuangan gender. Penemuan diri menjadi dasar utama mereka menyikapi zaman. Perempuan yang menganggap usang meneriakkan hak-hak mereka dan lelaki yang sudah jenuh dengan dunianya. Dunia bergerak dalam suatu karakter individualis.
Merayakan femininitas, era di mana wacana pembedaan gender semakin kekurangan argumentasi, era di mana pernyataan diri menguak, setiap perempuan dan lelaki merayakan eksistensi mereka, maka tak mungkin lagi perempuan dihadirkan sebagai makna jenis kelamin semata.
Tetapi apa pun istilahnya Hari Perempuan se-Dunia adalah hari para perempuan untuk melihat kembali kehadiran dunia mereka dalam sembilan dekade terakhir tentang perjuangan kesetaraan, keadilan, perdamaian dan kemajuan.
Pahlawan Perempuan
Budaya patriakhis yang membentuk sebagaian besar masyarakat di seluruh belahan dunia yang telah memosisikan perempuan sebagai makhluk lemah yang harus dilindungi justru seakan menjadi sebuah bumerang bagi kaum perempuan.
Bukannya kemudian menduduki suatu posisi terhormat, label makhluk lemah tersebut justru memberikan suatu sugesti kepada semua orang bahwa perempuan memang lemah. Tidak dapat melawan jika dipukul karena tidak sekuat pria secara fisik, hanya diam jika diperlakukan tidak adil karena memang sudah sewajarnya pria memperoleh lebih.
Maka mumcullah bait lagu, "Wanita dijajah pria sejak dulu.....tetapi tidak jarang pria tunduk di sudut kerling wanita", di mana kekuatan perempuan dihargai dari kerling matanya. Label makhluk lemah yang berhati lembut tersebut apabila terus tertanam dalam benak setiap generasi yang muncul ke dunia dapat membuat kapasitas perempuan-perempuan tangguh seperti Cut Nyak Dhien, Eleanor Roosevelt, Betty Friedan, Margaret Thatcher, dan Indira Gandhi tidak pernah ada lagi.
Predikat pahlawan seakan hanya layak melekat pada sosok-sosok "macho" bernama laki-laki sehingga Derby Romeo dalam film Petualangan Sherina pernah bernyanyi, "Yang namanya jagoan nggak ada yang pake rok."
Perempuan dan Permasalahannya
Label makhluk lemah yang melekat kuat dalam benak setiap orang laiknya sebuah "scarlett letter" yang digunakan Demi Moore dalam film "The Scarlett Letter", juga diakui oleh salah seorang wakil dari Komisi Nasional Anti Kekersan terhadap Perempuan, Ir. Samsidar.
"Di lokasi pengungsian di Aceh, sangat jarang ada perempuan yang ditunjuk sebagai koordinator atau pemimpin suatu tenda pengungsi," katanya memberi contoh.
Menurut dia, para perempuan juga tidak memiliki cukup akses untuk mengeluarkan pendapat sehingga banyak permasalahan perempuan yang tidak teratasi.
"Persoalan perempuan seringkali dipandang sebelah mata, misalnya seorang ibu yang habis melahirkan harus segera kembali tinggal di tenda dengan kondisi minimal dan dipandang sama seperti orang yang sehat sehingga harus mulai melakukan aktivitas seorang istri," katanya.
Samsidar menambahkan, mungkin hanya ada sedikit orang yang memperlakukan ibu tersebut laiknya orang pascamelahirkan yang harus beristirahat.
"Belum lagi petugas distribusi bantuan yang kebanyakan pria mengakibatkan 'bargaining position' para perempuan yang tidak lagi memiliki saudara pria dewasa menjadi lemah, mereka rentan terhadap pelecehan," ujarnya. Samsidar yang telah bertugas di Aceh sejak Januari 2005 itu juga menyoroti ketentuan adat setempat yang mengharuskan dua orang berlainan jenis yang dipergoki sedang berduaan untuk dinikahkan segera sebagai suatu hal yang tidak berpihak pada perempuan.
"Ketentuan seperti itu rentan penyalahgunaan, misalkan ada seorang pria yang menyukai seorang perempuan maka dia tinggal kompromi dengan koordinator untuk menyelinap ke tenda perempuan, setelah dipergoki maka dia akan serta merta dinikahkan dengan pujaan hatinya, tanpa peduli si perempuan mau atau tidak," katanya.
Perempuan dan Perjuangan Perjuangan memang belum usai bagi para perempuan untuk memperoleh persamaaan hak dan kesetaraan karena tidak mudah mengubah apa yang telah tertanam dalam benak masyarakat. Bekerja keras untuk mengatasi permasalahan perdagangan perempuan dan anak-anak, penghentian kekerasan terhadap perempuan, perlindungan perempuan terhadap AIDS/HIV, serta pencegahan perempuan sebagai target korban di daerah konflik.
Tetapi yang perlu diingat, para perempuan juga wajib konsisten pada perjuangan kesetaraan haknya tersebut. Jangan berteriak ingin kesetaraan gender, sama hak dengan pria tetapi mengeluh kala harus berdiri di dalam bus kota sementara para pria duduk mengongkang kaki. Dan tampaknya semua pihak untuk sekali lagi diminta sepakat bahwa persamaan hak dalam isu bias gender memang hanya berbatas tipis dengan isu kodrati yang telah melekat selama berabad-abad.
Perempuan memang tidak sama dengan pria, tetapi sebatas mana perbedaannya? Itu adalah suatu pertanyaan besar yang selalu menggelayut di benak setiap individu saat isu bias gender merebak.
Sekali lagi semua diminta arif menerjemahkannya, dan momen Hari Perempuan Sedunia mungkin adalah saat yang tepat untuk merenung sejenak mengurai benang tipis yang melilit keduanya.
Dan seperti Mariana Amiruddin menyebutkan, setelah Liberty, Equality, Fraternity, bagaimana bila kita tambahkan Femininity?
(T.KJ10 (T.KJ10/B/K002/K002) 07-03-2005 22:21:24
Database Acuan Dan Perpustakaan LKBN ANTARA

Little Prince

gue suka ngobrol sama Meschke karena dia pentasin "Little Prince", salah satu kisah favorit gue tentang seorang pangeran kecil yang kesepian, sangat kesepian

MELONGOK DUNIA BONEKA MICHAEL MESCHKE

Oleh Gusti Nur Cahya Aryani

Berawal dari infeksi telinga yang mengganggunya sejak usia lima tahun, kecintaan Michael Meschke terhadap dunia boneka terbangun.

"Waktu saya kecil, infeksi telinga itu sangat mengganggu, sampai kemudian untuk menghibur saya, ayah saya memberi saya beberapa wayang dari Birma. Wajah-wajah ceria yang saya temui itu memberikan kebahagiaan tersendiri dan itu menjadi awal perjalanan saya di dunia boneka," kata pendiri sekaligus sutradara Stockholm Marionette Theatre itu.

Menurut Meschke, sedikit banyak sejak saat itulah dia mulai berniat serius untuk menggeluti dunia boneka. Dan waktu pun berlalu sehingga di awal 2005 ini telah lebih dari 40 tahun, pria kelahiran Danzig, Jerman, 73 tahun lalu itu berkarya dalam dunia yang identik dengan anak-anak itu.

"Boneka memang identik dengan anak-anak tetapi saya merasa miris jika ada orang yang memiliki anggapan bahwa seorang seniman tidak dapat mengeksplorasi jiwa seninya hanya gara-gara memilih untuk berkecimpung di dunia anak-anak," ujar Meschke.

"Melalui boneka-boneka saya, terutama 'Little Prince', saya belajar banyak tentang cara untuk menyampaikan pesan-pesan sulit kepada anak-anak dalam bingkai seni yang menarik," ujarnya.

Dan Meschke membuktikan semuanya itu dalam setiap karyanya, entah itu repertoar, pertunjukan boneka, patung, atau pun teater yang telah digarapnya.

Beberapa karyanya yang mendapat pengakuan dan memperoleh tempat khusus dalam riuh dunia seni internasional, seperti "The Lonely Ear", "The Grand Macabre", "The Story of a Soldier" dan tentu saja "The Little Prince" menghantarkan Mesche pada anugerah professor kehormatan dari pemerintah Swedia di 1993. Ketika ditanya tentang animo generasi muda yang mungkin tidak sebagus dahulu terhadap pertunjukan boneka karena modernisasi yang mengakibatkan beberapa tokoh klasik boneka tergusur oleh pahlawan-pahlawan maya dari dunia "computer game", Meschke mengungkapkan beberapa pandangannya. "Modernisasi memang tidak dapat dibendung tapi itu justru menjadi suatu tantangan khusus bagi orang seperti saya agar tetap eksis, entah itu dengan menggiatkan 'workshop' atau meningkatkan mutu pertunjukan dengan memanfaatkan modernisasi itu sendiri," ujar pria yang beremigrasi ke Swedia bersama keluarganya sejak 1939 itu.

Keoptimisan dan dedikasi Meschke terhadap dunia boneka itulah rupanya yang membuat beberapa institusi di berbagai negara seperti, Indonesia, Perancis, Norwegia dan Thailand, sempat memanggilnya untuk membagi pengetahuan dan pengalamannya selama malang melintang di dunia yang penuh fantasi itu. "Kita perlu yakin dengan apa yang kita kerjakan, ketika saya memulai perjalanan saya di dunia boneka, bukan suatu hal yang mudah mengingat di Eropa boneka atau wayang bukanlah suatu budaya yang terlalu mengakar seperti di Asia, terutama Indonesia," kata Meschke yang sore itu mengenakan kemeja berwarna oranye terang.



Gantung Boneka

Lebih dari separuh hidup anak sulung seorang pendeta bernama Kurt Meschke itu didedikasikan pada boneka. Adakah dia berkeinginan untuk berhenti?

"Tidak, tapi ada saat di kala saya memang pernah berniat berhenti membawakan satu lakon yaitu 'The Little Prince', karena sudah lebih dari 25 tahun saya mementaskannya lebih di 15 negara," ujarnya.

Niat untuk berhenti tersebut tidak terwujud kala salah seorang sahabatnya, sutradara terkenal asal Swedia, Peter Oskarson memintanya untuk menciptakan versi baru dari legenda "The Little Prince".

"Saat itu, 2003, dia meminta saya untuk mencoba menggelar sebuah pertunjukan boneka yang berkolaborasi dengan para aktor. Saya bilang tidak mungkin, tetapi Peter memaksa saya untuk mencobanya," kata pria kelahiran 14 Juli 1931 itu.

Program itu ternyata membuahkan hasil yang di luar dugaan Meschke, para aktor yang disodorkan Oskarson dapat memainkan boneka-boneka itu dalam waktu hanya sekitar enam minggu.

"Mereka luar biasa. Hal itulah yang membuat sang pangeran kecil tidak jadi pensiun dan kini hendak menggelar tur Asianya yang ke dua setelah 30 tahun," kata Meschke.

Ditemui di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki (TIM), Selasa (22/2), Meschke mengatakan bahwa salah satu alasannya memilih Jakarta sebagai kota pertama yang disinggahinya dalam tur Asia keduanya itu adalah karena budaya wayang yang sangat lekat di Indonesia.

"Saat saya berkunjung ke Jakarta pada 1975 bersama sang pangeran kecil, saya bertemu dengan sekitar 2.000 dalang, menakjubkan," katanya.

Walaupun mengakui budaya wayang yang sangat mengakar di Indonesia tetapi Meschke mengaku tidak berniat untuk berkolaborasi dengan dalang Indonesia karena khawatir mengacaukan "pakem" wayang yang ada.

"Saya menghormati teknik dan tradisi yang ada di Indonesia, jadi saya tidak dapat berkolaborasi dengan mereka," katanya.



Sang Pangeran Kecil

"The Little Prince" yang diadaptasi dari buku karya penulis kenamaan Perancis, Antoine de Saint-Exupery dan telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 50 bahasa itu adalah karya favorit Meschke.

"Kisah yang sangat luar biasa bagi saya sehingga saya ingin selalu membagi kisah ini dengan banyak anak-anak ataupun orang dewasa di dunia melalui pertunjukan saya," kata Meschke yang telah mementaskan lakon tersebut sejak tahun 70-an.

Kisah tersebut bercerita tentang pengalaman seorang pilot yang harus melakukan pendaratan darurat di sebuah gurun. Di sana dia bertemu dengan seorang pangeran kecil misterius dari negeri 'antah berantah' nun jauh di luar angkasa.

Melalui pangeran kecil tersebut, sang pilot memperoleh banyak pemahaman dan perspektif baru tentang dunia, tentang hal-hal kecil yang sesungguhnya penting.

"Dalam 'Little Prince', ada suatu kisah tentang kematian yang cukup peka bagi anak-anak tetapi Antoine dapat menyampaikannya dengan baik, yaitu dengan mengatakan bahwa tiba saat sang pangeran untuk meninggalkan tubuhnya di gurun dan kembali ke bintang," katanya.

Keistimewaan dari pertunjukan boneka Meschke terutama terletak pada kemampuannya menggabungkan dunia boneka dan orang.

"Di kisah itu ada dua karakter yaitu karakter pilot yang merupakan sosok manusia nyata dan karakter pangeran kecil. Jika semua diwujudkan dalam boneka maka kita tidak akan dapat menangkap esensi yang mau disampaikan sang penulis. Itulah sebabnya saya mempertahankan karakter pilot yang manusia," katanya. Hal itu membuat Magnus Lindberg, pemain si pilot menjadi satu-satunya karakter manusia yang akan tampil di panggung diantara sekitar delapan orang pendukung acara.



Teknik Bunraku

"Untuk menghidupkan pangeran kecil, saya mengambil sedikit teknik Bunraku atau wayang Jepang sehingga anggota badan pangeran kecil dapat bergerak optimal," ujarnya.

Boneka pangeran kecil yang tingginya tidak lebih dari 60 centimeter itu pun dimainkan oleh tiga orang seperti laiknya Bunraku.

Selain Bunraku, Meschke tidak membatasi pergelarannya dalam satu teknik tertentu, dia menggabungkan teknik mengggunakan tali, tongkat dan bayangan dalam karyanya.

"Tidak ada batasan untuk menggunakan teknik khusus, saya memakai berbagai macam teknik untuk mendukung penampilan sebab tidak mudah menghidupkan sebuah benda mati seperti boneka yang tidak bernyawa," katanya. Menghidupkan boneka, agaknya itulah yang akan dilakukan Meschke dalam pertunjukan berdurasi satu jam yang penuh fantasi dan puisi, aktor dan boneka serta perjalanan menembus langit di TIM, 23-24 Febuari 2005. Walaupun secara teknik, boneka "The Little Prince" mungkin tidak akan seekspresif wayang golek Betawi Tizar Purbaya yang juga mengadaptasi teknik Bunraku, tetapi kolaborasi boneka dengan manusia dalam lakon seklasik "The Little Prince" memang cukup unik. T.KJ10 (T.KJ10/B/K002/K002) 23-02-2005 20:16:36
Database Acuan Dan Perpustakaan LKBN ANTARA

INSPi


Untuk bikin tulisan ini gue jadi ekor INSPi seharian, capek banget tapi konsernya seru. Untuk pertama kalinya gue lihat grup acapella manggung, tapi sebenernya Jamaica Cafe lebih sip


"INSPi" BER-"VA LI HA LI HA" DALAM ACAPPELLA
Oleh Gusti Nur Cahya Aryani

Berawal dari pertemanan pada masa kuliah di 1997 dan latihan bersama menggunakan lagu "Thank You" dari "Boys II Men", sebuah kelompok musik acappella "tenar" di Jepang, "INSPi" memulai perjalanan karirnya menapaki hingar bingar industri rekaman.
Meskipun dalam riuh rendah industri musik, acappella atau musik mulut, belum sepopuler pop, rock atau jazz di telinga para penikmat musik dan bahkan bagi beberapa golongan, acappella identik dengan musik rohani tetapi hal itu ternyata bukan halangan bagi "INSPi" untuk terus menekuninya.
"Kami senang beracappella, karena ini adalah keinginan kami sejak dahulu. Kami ingin dapat memainkan musik yang menghargai segala jenis suara, dan itu kami temukan dalam acappella," kata "INSPi", kelompok musik asal negeri Sakura itu.
Kelompok musik yang digawangi oleh enam pemuda yaitu Takehiko Kita, Shinji Okumura, Tomoyuki Okura, Atsushi Sugita, Akira Tsukata, dan Takafumi Watanabe itu mengungkapkan kecintaan mereka terhadap acappella, musik yang telah mereka ditekuni selama tujuh tahun lalu.
"Bahkan orang yang memiliki suara rendah seperti saya sehingga sedikit sulit apabila ingin membawakan lagu-lagu hits di Jepang pun mampu turut ambil bagian dalam acappella," kata sang vokalis bass, Akira Tsukata. Tentu saja Tsukata merendah dengan pernyataannya tersebut karena pada saat tampil dirinya dan Watanabe selalu mendapat sambutan meriah dari para penonton yang terheran-heran melihat kemampuan vokal mereka menirukan bunyi bass dan bass drum.
Walaupun acappella yang dimainkan oleh "INSPi" masih menitikberatkan pada paduan suara dan kekuatan vokal para vokalisnya yaitu Kita, Okumura, Okura dan Sugita, tetapi tampak enerjik dan ritmik dengan keahlian Tsukata dan Watanabe, sang vokal perkusi, mengiringi setiap lagu.
"Kami ingin makin banyak orang yang mencintai acappella. Untuk itulah kami ingin mengajak semua orang bersenang-senang dengan musik ini," kata Okura.
"INSPi" dan Karir
Karir "INSPi" dibangun sejak 1997 saat para personilnya masih duduk di bangku kuliah dengan mengusung nama "Inspiritual Voices".
Untuk memudahkan publik menyebut mereka maka kala menggelar konser 'live' pertama pada 24 Agustus 1998, mereka meresmikan nama "INSPi" sebagai nama kelompok mereka yang baru. "INSPi berasal dari kata inspiritual, agar tidak terlalu panjang dan mudah diingat maka kami pendekkan menjadi INSPi," ujar Tsukata. Sambutan publik Jepang yang sangat baik, membuat satu demi satu 'single' pun diluncurkan oleh "INSPi", beberapa di antaranya yang cukup populer adalah Cicada's Love Song dan I do.
Sekalipun formasi "INSPi" yang sekarang berbeda dengan saat pertama kali dibentuk tetapi secara khusus Okura mengatakan bahwa hal itu tidak berpengaruh banyak pada musik "INSPi".
Dia juga mengatakan bahwa formasi kali ini adalah yang terbaik. "Pergantian personil terjadi ketika kami lulus kuliah karena tidak semua ingin memantapkan karir dalam dunia musik acappella dan kesibukan yang berbeda. Personil yang terakhir bergabung adalah Shinji pada 2002," ujarnya.
Dengan formasi baru, INSPi meluncurkan album pertama mereka yang bertajuk "Inspiritual Voices" pada 26 Juni 2002 dengan lagu andalan What's My Life. Kesuksesan album pertama disusul dengan album kedua yang bertajuk "Va Li Ha Li Ha" (2003) dan "INSPi Roman" (2004). Ketika ditanya lebih lanjut tentang maksud dari "Va Li Ha LI Ha", lagu andalan mereka dari album kedua, Sugita mengatakan bahwa secara khusus kata tersebut tidak berarti.
"Itu hanya bunyi, tidak ada artinya. "INSPi" hanya ingin membuat 'image' bahwa setiap orang bisa bahagia dengan bunyi atau musik," ujar vokalis berusia 26 tahun itu. Sedangkan "INSPi Roman", meninabobokkan kaum pecinta dengan satu lagu cantik yang bertajuk "Konohoshino Komoriuta" atau "Nina Bobo di Planet Kita". "Rencananya pada musim panas atau musim gugur tahun ini kami akan memgerjakan album ke empat kami, tetapi untuk judulnya kami belum tentukan," kata Sugita.
Sementara itu sepulang dari tur di Indonesia, sebuah konser keliling Jepang telah menanti "INSPi" di bulan Maret 2005 dalam rangka promosi album ketiga mereka.
"INSPI" dan Fans
Mungkin terlalu dini menyebut ratusan orang yang memadati konser mereka di tiga kota di Indonesia, yaitu Makassar, Jakarta dan Yogyakarta sebagai penggemar atau fans, tetapi tepukan panjang dari penonton sepanjang konser membuktikan bahwa apa yang ditampilkan "INSPi" meninggalkan kesan mendalam di benak penikmatnya. "Kami suka spontanitas publik Indonesia, apabila lagu yang kami mainkan bagus mereka tidak segan bertepuk tangan di tengah lagu, hal itu membuat kami lebih semangat bernyanyi," kata Okura.
Menurut dia, spontanitas itu merupakan hal yang positif sekalipun juga menimbulkan beban tersendiri karena reaksi penonton dapat langsung terlihat dengan jelas. "Orang Indonesia lebih ramah, kami merasa disambut baik di sini, suatu pengalaman yang indah," kata Okura yang mengaku bahwa "INSPi" pernah tampil di Amerika sewaktu mahasiswa. Ekspresi penonton di Indonesia, kata Sugita menambahkan, seakan mengajak untuk bersenang-senang bersama-sama.
"Kami juga dapat pengalaman yang menyenangkan kala menggelar konser mini di hadapan anak-anak Sanggar Anak Akar. Anak-anak tampak sangat gembira dan menikmati pertunjukan. Keakraban itu dapat terbangun karena kami bernyanyi bersama," katanya.
Pada kesempatan itu, Watanabe, sang vokalis perkusi yang selalu mendapatkan tatapan kagum dari para penonton karena keahliannya menirukan bunyi "drum set" mengatakan bahwa dapat tampil di Indonesia adalah suatu kebanggaan karena selama ini publik "INSPi" adalah orang-orang Jepang. "Melihat reaksi publik Indonesia adalah pengalaman baru yang bagus dan menyenangkan," kata Okura yang tampak berusaha keras untuk selalu mengucapkan berbagai istilah dalam Bahasa Indonesia dalam setiap penampilannya. Sebuah pertunjukan profesional yang ditangani dengan serius kala "INSPi" tampil di Sanggar Anak Akar (SAA) dengan penonton tidak lebih dari 50 orang menunjukkan bagaimana "INSPi" menghargai setiap penontonnya.
"Kami senang jika orang bahagia karena musik kami, tidak peduli siapa dan di mana," ujar Kita yang juga menyebutkan bahwa sejak awal "INSPi" memang menginginkan dapat tampil secara khusus untuk anak-anak sehingga merasa sangat senang bisa berbagi cerita dengan anak-anak SAA.
Di Jepang sendiri popularitas "INSPi" meningkat tajam sejak tampil dalam acara Fuji television pada Mei 2001.
"INSPi" dan Indonesia
"Ini adalah kunjungan kedua kami ke Jakarta setelah J-ASEAN Pops Concert di Jakarta Oktober 2003," kata Okura yang sempat cemas jika rencana konser mereka batal karena bencana tsunami yang melanda Aceh dan Sumatra Utara di penghujung 2004.
Dan, Okura menambahkan, di Indonesia juga untuk pertama kalinya "INSPi" menggelar konser 'live' di luar negeri. Oleh karena itu, sebagai penghargaan dan simpati terhadap bencana tsunami yang terjadi di Indonesia, "INSPi" menciptakan sebuah lagu khusus untuk publik Indonesia yang berjudul "Akar Hati" atau "Kokorono Nekko". "Sebenarnya jika jadwal yang tidak padat, kami ingin sekali melihat-lihat keindahan negeri ini," kata Sugita yang mengaku belum pernah ke Bali.
Menurut pemuda berkacamata itu, salah satu tempat yang sangat ingin mereka kunjungi adalah Candi Borobudur. "Kami akan tinggal dua hari di Yogya, jadi kami harap dapat mengunjungi Borobudur dan mungkin juga Kraton di sela-sela jadwal pementasan pada 13 Febuari nanti," ujarnya sambil sibuk menghafalkan ucapan selamat malam dan terima kasih dalam Bahasa Jawa.
Susah payah, Sugita melafalkan ucapan "Sugeng Ndalu" untuk selamat malam dan "Matur Nuwun" untuk terima kasih.
"Musik memang universal tidak mengenal batasan bahasa tetapi akan lebih menyenangkan jika bisa menyapa penonton kami dengan bahasa mereka," ujar Okura yang dikenal paling getol menggunakan Bahasa Indonesia walaupun patah-patah.
Sementara itu setengah bercanda, Kito mengatakan bahwa mengunjungi Indonesia membuat meraka melompat dari musim dingin ke musim panas tanpa melewati musim semi. "Ketika kami berangkat dari Jepang, di sana masih musim dingin tapi tiba-tiba kala kami mendarat di Indonesia langsung disambut terik sinar matahari," ujarnya.
Dan walaupun melewatkan sejuknya musim semi, bukan halangan bagi "INSPi" untuk mengajak publik Indonesia ber"va li ha li ha" dengan acappella, termasuk mempersembahkan lagu andalan mereka, Konohoshino Komoriuta, dalam Bahasa Indonesia.
T.KJ10 (T.KJ10/B/K002/K002) 12-02-2005 15:33:05
Database Acuan Dan Perpustakaan LKBN ANTARA

Marlupi Sijangga


Hasil kerja keras gue mantengin balet ...hehehe



JEJAK LANGKAH MARLUPI SIJANGGA DALAM DUNIA BALET INDONESIA


Oleh Gusti Nur Cahya Aryani

Empat puluh sembilan tahun yang lalu Marlupi Sijangga mungkin tidak akan pernah menduga jika sekolah balet yang dirintisnya sejak usia lima belas tahun akan sebesar kini dan menciptakan taburan penari-penari berbakat di Indonesia. Salah satu di antara mereka adalah Yanti Marduli.
Dia pulalah satu-satunya penari balet Indonesia yang ikut serta dalam kompetisi Genee Award di Sydney Opera House pada 2002.
Menurut Marlupi, kecintaannya terhadap tari balet diawali saat ia tertarik memperhatikan gerakan noni-noni Belanda yang sedang belajar balet, sayangnya keinginan Marlupi untuk mengikuti kursus balet klasik ditentang orang tuanya, sehingga ia terpaksa mencuri uang dari ibunya.
"Tidak mudah untuk meyakinkan orang tua saya bahwa saya sungguh-sungguh ingin belajar balet sekitar tahun 1950-an," kata Marlupi.
Berbeda dengan gambyong, serimpi atau beberapa jenis tarian lain yang banyak dipelajari oleh generasi muda di era itu, balet adalah sebuah budaya impor yang jamaknya belum lazim di kalangan masyarakat luas. Tetapi usaha dan kesungguhan Marlupi tidak sia-sia karena akhirnya mampu meluluhkan hati kedua orang tuanya sehingga mereka mengizinkan Marlupi menekuni balet.
"Jadi karir saya dalam dunia balet berawal secara otodidak," kata Marlupi yang gaya baletnya sedikit banyak berkiblat pada balet Rusia saat itu.
Berbekal kemampuan yang diperolehnya secara otodidak itu Marlupi mendirikan Marlupi Dance Academy (MDA) pada 1956 di usia 15 tahun.
Perjalanan Marlupi mengukuhkan eksistensinya di dunia balet Indonesia, penuh kerja keras. Sepanjang hidupnya, dia tidak pernah berhenti belajar meningkatkan kemampuannya. Berkat dukungan dari anaknya, Fifi Sijangga, Marlupi kemudian kursus mengajar balet di Royal Academy of Dance dan berhasil memperoleh sertifikat di London ketika usianya mencapai 60 tahun.
Sertifikat tersebut mengesahkan Marlupi sebagai pengajar tari balet profesional. Sementara itu agar tidak tertinggal isu terbaru tentang balet, secara khusus Marlupi rajin mengikuti perkembangan dan mempelajari teknik-teknik baru hingga ke Amerika, Jerman, Inggris, Singapura, dan Shanghai, untuk kemudian dikembangkan di sekolahnya.
Kegigihan itulah yang kemudian ditularkannya pada murid-muridnya di MDA. Marlupi dikenal aktif mendorong murid-muridnya menjadi penari andal di usia muda, dengan mengikutsertakan mereka pada festival-festival balet.
"Bagi seorang penari pengalaman sangat penting, dengan aktif mengikuti festival tingkat nasional atau internasional maka wawasan akan terbuka," kata peraih Adhi Karya Award itu.
MDA
Kini Menurut Marlupi, kini MDA yang telah dirintisnya dengan susah payah di Surabaya selama hampir setengah abad telah menjelma menjadi salah satu akademi tari yang diakui di Indonesia.
Dengan sekitar 50 pengajar pilihan yang tersebar di 20 studio cabang dan dua studio utama yang terletak di Surabaya dan Jakarta, MDA konsisten memajukan dunia balet Indonesia. Salah satu caranya dengan mengadopsi sistem pengajaran balet klasik dari Royal Academy of Dance-London (RAD) serta sistem pengajaran 'fitness' atau senam dari Internasional of Fitness Proffesionals-San Diego, California (IDEA), di mana kini Marlupi juga menjadi anggota, agar mampu bersaing di dunia balet internasional.
"Terutama agar kualitas pengajaran balet kita dapat setara dengan yang diajarkan di dunia balet internasional," ujar peraih Best Executif Award dari Singapura pada 1982 itu. Dengan dukungan dari anaknya, Fifi, yang juga merupakan presenter acara kebugaran di salah satu televisi swasta, Marlupi terus berusaha agar MDA mampu untuk tetap unjuk gigi di kancah balet nasional maupun internasional.
Kekonsistenan untuk menjaga kualitas tersebut terus berlanjut dengan mengikutkan para siswanya ujian ke Singapura, yang ijazahnya diakui Royal Academy of Dance, London.
Karya Besar
"Melalui pementasan Nutcracker-The Story of Clara ini, kami ingin menunjukkan pada publik betapa indahnya tarian balet klasik, irama musik, perasaan serta pemahaman yang berpadu sehingga menghasilkan alur cerita yang indah," kata Marlupi ketika ditemui di belakang panggung saat pergelaran balet MDA di Gedung Kesenian Jakarta, 29 Januari 2005.
Setelah sukses dengan pementasan "The Dreams" (Colours, 2003) dan beberapa repertoar, MDA ingin memberi bukti akan kemampuannya menggelar sebuah cerita balet secara utuh melalui Nutcracker-The Story of Clara.
Marlupi juga mengatakan bahwa sekalipun telah aktif menggelar pertunjukan sejak 1960-an, nama MDA baru dikenal luas oleh dunia balet nasional sejak pementasan balet pertamanya pada pembukaan Taman Budaya Jatim, Surabaya, 1976.
Seusai kisah sukses itu, prestasi demi prestasi pun diraih oleh MDA, beberapa diantaranya adalah juara pertama balet dan juara kedua jazz duo di "Dance Caravan Competition Los Angeles" dan "Tremaine, New York", serta juara pertama tari balet dan jazz di "I Love Dance Competition Las Vegas".
"Jangan pernah puas dan berhenti pada satu keberhasilan, terus berkarya untuk memberikan yang terbaik bagi kemajuan dunia balet Indonesia adalah salah satu motivasi terbesar saya," ujar wanita yang tampak tetap penuh semangat di usianya yang telah lebih dari60 tahun itu.
Dan seperti kata peraih Karier dan Prestasi Pria wanita 1996 itu, balet memang boleh jadi sebuah budaya impor tetapi bukan berarti generasi Indonesia tidak mampu melakonkannya sebaik mereka.
Dunia telah berubah, ruang dan waktu bukan lagi batas, seni pun menjadi semakin universal dan tak terpetakan. Gamelan di tangan wajah-wajah aria ataupun balet dalam gemulai langkah kaki-kaki ras melayu menjadi buktinya.
T.KJ10 (T.KJ10/B/K002/K002) 04-02-2005 19:25:33
Database Acuan Dan Perpustakaan LKBN ANTARA

Tentang Trisna

Ini tulisan humaniora gue yang pertama, pengalaman pertama gue ngobrol ma anak-anak jalanan. Gue ga tahu bocah-bocah itu bohong ato tidak untuk semua jawaban yang mereka lontarkan, soalnya kadang mereka tampak rada ga nyambung.

TRISNA, GENERASI YANG TERSESAT DI SUDUT GELAP STASIUN

Oleh Gusti Nur Cahya Aryani

Malam belum lagi larut, 20.00 WIB, ketika sepasang kaki telanjang memasuki gerbong kereta api bisnis jurusan Jakarta-Yogyakarta sehingga meninggalkan jejak kaki penuh lumpur di tangga besi itu.
Di pintu masuk gerbong, pemilik sepasang kaki tersebut menatap sekilas kerumunan penumpang yang sibuk merapikan barang-barang bawaan sebelum kemudian dia bersimpuh di kursi terdekat.
Usianya mungkin belum lagi genap 10 tahun apabila menilik dari raut wajah dan tinggi tubuhnya yang tidak lebih dari 140 centimeter.
Sementara itu tubuh kurusnya yang terkesan kotor hanya terbungkus selembar kaos dan celana pendek dekil yang tidak lagi menyisakan warna aslinya, entah putih, kuning atau abu-abu sedangkan tangan kanannya menggenggam sebuah sapu kecil bertangkai biru.
Detik berikutnya bocah kecil itu mulai memainkan sapunya mencoba mengumpulkan kotoran di lantai gerbong kereta yang tampak bersih itu.
Bersih, karena sejauh mata memandang dari kursi nomor 1-A hingga nomor 20-D tidak tampak sehelai tisu bekas pun, yang ada hanyalah jejak noda bekas sepatu para penumpang yang lalu lalang.
Seakan tidak peduli, sambil berjongkok bocah kecil itu tetap "berlagak" membersihkan lantai dan koridor kereta.
Setiap usai memainkan sapunya di lantai depan kursi tertentu dia mengangsurkan tangan kanannya yang berkuku hitam itu untuk meminta upah dari penumpang atas "hasil kerjanya" itu.
Beberap orang penumpang kemudian memberikan sejumlah uang logam atau selembar ribuan ke tangan itu sebelum kemudian kembali dengan kesibukannya masing-masing seakan menganggap pemandangan seperti itu layak, menyaksikan seorang bocah keluyuran di gerbong kereta di hari yang tidak lagi terang. Sementara itu sejumlah orang yang tampak terganggu dengan tingkah sang bocah terlihat menyodorkan keping logam sambil menggerutu.
"Menyebalkan, sudah tahu lantai bersih masih juga berlagak menyapu, mana mintanya setengah memaksa lagi, tidak mau beranjak pergi kalau belum dikasih," kata Retno Astuti, salah seorang penumpang yang sibuk mengurus bayinya.
Tetapi seakan tidak peduli dengan gerutuan dari ibu itu, bocah lelaki berkulit coklat gelap tersebut tetap meneruskan kegiatannya. "Untuk beli makan, Bu, Pak," kata si bocah kepada setiap penumpang dengan ekspresi memelas.

Namanya Trisna
Trisna. Begitu, bocah lelaki itu mengaku ketika ditanya siapa namanya sekalipun dia tidak lagi ingat berapa usianya. Menurut Trisna, pekerjaan sebagai tukang sapu gerbong telah dilakoninya lebih kurang setahun lalu.
Dan detik berikutnya kisah demi kisah pun terlontar dari bibir Trisna. Tentang seorang kakak laki-lakinya yang menjadi pengamen, tentang ibunya yang seorang pengumpul barang bekas, dan sosok bapak yang tidak pernah dikenalnya.
"Tetapi sejak Pemilu Presiden kemarin saya sudah tidak pernah bertemu ibu dan kakak lagi," ujarnya.
Sewaktu pemilu kebetulan Trisna tinggal di stasiun Tugu Yogyakarta selama satu bulan dan siapa sangka ketika kembali ke Jakarta dia tidak lagi menemukan ibu dan kakaknya di kawasan Senen, Jakarta Pusat. "Ibu tidak ada lagi di sana, mungkin telah pindah karena dulu kami pun biasa berpindah-pindah," katanya ringan tanpa sebersit nada penyesalan pun dalam suara beningnya.
Menyedihkan melihat bola mata hitam itu tidak lagi menyisakan kerinduan sedikit pun pada sosok seorang ibu.
Tanpa ibu dan kakaknya, Trisna kini tinggal nomaden dari stasiun ke stasiun, tertidur melepas lelah di sudut-sudut gelap stasiun yang disinggahinya di antara derap kaki penumpang yang lalu-lalang dalam bising suara gerigi besi roda kereta api yang beradu dengan rel.
"Tidak selalu di Jakarta, kadang di Semarang, Surabaya, Yogyakarta atau Purwokerto tetapi paling suka di Yogyakarta karena dekat Malioboro dan banyak bule," ujarnya.

Menadahkan Tangan
Sedari lahir, bocah seperti Trisna mungkin memang hanya tahu bagaimana caranya menadahkan tangan untuk bertahan di dunia.
"Saya tidak bisa membaca karena tidak pernah sekolah, tetapi tidak ada gunanya juga saya bisa baca yang penting bisa makan," katanya.
Hidup di jalanan, beralaskan bumi dan beratap langit, beku oleh dinginnya malam yang menusuk tulang, serta panas terpanggang terik sinar matahari membuat slogan wajib belajar sembilan tahun dari pemerintah seakan lelucon belaka di telinga Trisna dan teman-teman senasibnya.
"Pokoknya bisa makan, kerja apa saja. Saya biasa minta-minta, mengamen di angkutan atau menyapu gerbong," ujar Trisna singkat sambil mengunyah sebatang coklat yang disodorkan kepadanya.
Jika sedang beruntung, menurut Trisna sehari dia dapat memperoleh uang sampai Rp15 ribu, tetapi jika sedang sial Rp5 ribu pun susah sekali memperolehnya.
Hidup seorang diri di jalanan bukan tanpa resiko, sekalipun mengaku belum pernah mendapat perlakuan kasar dari "preman" atau anak-anak yang lebih besar tetapi Trisna mengakui bahwa saat terberatnya muncul jika dia jatuh sakit.
"Kalau tidak enak badan, terkadang lapar seharian tapi tidak bisa cari uang," ujar Trisna polos.
Dan kisah demi kisah tentang kehidupannya yang tampak sia-sia untuk dijalani pun terus meluncur dari mulut Trisna tanpa sepatah kata duka dan penyesalan pun terucap.

Berlagak Dewasa
Trisna tidak sendiri, dia mengaku banyak anak-anak seusianya yang juga tinggal di jalanan tanpa orang tua atau saudara, menyandarkan hidup pada belas kasihan orang yang lalu-lalang di stasiun.
Bocah-bocah mungil itu adalah generasi bangsa yang hilang yang menatap polos pada tegaknya bangunan-bangunan megah dan mall-mall mewah yang terus bermunculan tanpa pernah mengerti arti sebagai anak bangsa.
"Saya bisa hidup seorang diri, tidak perlu ibu atau siapa pun. Tapi kalau cewek mungkin perlu juga," katanya dengan nada berseloroh ketika ditanya tentang kesendiriannya.
Trisna mungkin memang baru berusia sekitar 10 tahun tetapi dia telah berceloteh banyak tentang pergaulan bebas yang dilakoninya setahun dua tahun terakhir.
Melihat caranya bertutur, menatap pada bening bola matanya, dan jemari kotor yang merangkum permen dan coklat itu ke dalam mulutnya, sungguh Trisna hanya seorang bocah, sekalipun dia berceloteh banyak tentang pergaulan bebas yang dijalaninya.
Trisna, bocah itu berlagak dewasa karena lingkungannya memang menempanya untuk seperti itu. Dunia yang ditempatinya sedetik pun tidak pernah mengizinkan Trisna untuk bersikap laiknya bocah 10 tahun. Oleh karena itu ketika dua lembar uang Rp20 ribu diselipkan di jemari tangannya, Trisna setengah terburu-buru memasukkan uang tersebut ke dalam kantong celananya sebelum kemudian mengucapkan terima kasih singkat dan menghambur keluar gerbong meninggalkan lima pasang kursi yang belum lagi selesai "disapunya". Dan ketika kereta mulai beranjak perlahan, di antara ramainya orang di stasiun Pasar Senen malam itu, seorang bocah yang tengah dikerumuni anak-anak sebayanya terlihat melambai ke arah kereta dengan sebatang rokok terselip di bibirnya.
Dia adalah Trisna, seorang bocah yang memang dipaksa untuk dewasa atau hanya berlagak dewasa?
T.KJ10 (T.KJ10/B/K002/K002) 24-01-2005 19:37:30
Database Acuan Dan Perpustakaan LKBN ANTARA

Tsunami Aceh


26 Desember 2004 gelombang tsunami menggulung Aceh, gue bukan termasuk kloter pertama yang berangkat ke sana untuk liputan. Kaki gue baru menginjak Aceh sekitar 3-4 bulan kemudian itu pun terjebak dalam rombongan Jackie Chan, Miss World n sejumlah selebriti lain yang gue ga kenal.


PS: Ini artikel pertama gue yang dinilai bagus oleh redaktur ...hehehe...


SPEKTRUM/Kesehatan --- "MEREKA" MENGINTAI PARA PENYINTAS DAN RELAWAN DI ACEH


Oleh Gusti Nur Cahya Aryani


Bencana gempa diikuti terjangan gelombang pasang air laut (tsunami) yang menghantam beberapa negara di Asia, seperti Indonesia, Thailand, India, dan Sri Langka, ternyata selain merenggut lebih dari 150 ribu nyawa juga menyisakan berbagai permasalahan bagi para penyintas (survivor) dan relawan.

Sejumlah wabah penyakit menular, hadir laksana bom waktu, mengintai para penyintas dan relawan yang lengah.Bersembunyi di balik duka dan air mata yang belum lagi mengering dalam tenda-tenda pengungsi dan posko-posko relawan.

Tanpa toleran terhadap tekanan fisik dan psikologis yang tengah menghimpit para penyintas dan relawan, beberapa jenis penyakit, seperti bronkopneumonia, otitis media akut, radang paru-paru, tetanus, kolera, disentri, malaria, dan TBC dikabarkan rentan menjangkiti beberapa orang di Nangroe Aceh Darusalam (NAD). Pada tahap awal setelah evakuasi, bronkopneumonia, otitis media akut, dan radang paru-paru adalah salah satu kasus yang banyak di dapati, hal itu diakibatkan oleh tenggelam dan terlalu banyak meminum air atau lumpur sehingga air masuk ke paru-paru.

Hal itu dikuatkan oleh pernyataan Ketua Ikatan Rumah Sakit Jakarta Metropolitan, dr Nasir Nugroho SpOG, dan dr Purnamawati SpA dari Rumah Sakit Pondok Indah Jakarta, Rabu, 5/1, di Jakarta, tentang beberapa orang korban tsunami yang dirawat di sejumlah rumah sakit di Jakarta yang meninggal, karena radang paru-paru.

Kini, dua minggu pasca-tragedi itu, beberapa pihak, seperti Departemen Sosial, Departemen Kesehatan, dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Kesehatan mulai menyebut "clostridium perfringens" sebagai bom waktu baru yang menyusup di setiap tarikan nafas para penyintas dan relawan yang berada di NAD.

Para penyintas dan relawan yang terpaksa menghabiskan waktu dan hari-harinya di antara sisa-sisa bekas pemukiman yang telah luluh-lantak di terjang tsunami, bangkai ratusan kendaraan bermotor, kapal, batang-batang pohon dan binatang ternak yang masih bergelimpangan di hampir seluruh kawasan.

Selain itu, jasad korban yang belum sempat dievakuasi, karena terhimpit bangunan yang roboh mulai membusuk sehingga mengeluarkan gas gangrene yang diduga mengandung "clostridium perfringens". "Clostridium perfringens", bakteri anaerob yang hidup pada tempat-tempat dengan kadar oksigen rendah itu diketahui mengandung beragam racun yang menular melalui makanan atau luka.

Salah satu racun paling berbahaya, adalah "phospholipase C" yang menyerang sel darah merah, sel darah putih, kerusakan pembuluh darah halus dan memicu timbulnya kerusakan hati serta menghambat pembekuan darah.

NAD, pasca-gempa dan tsunami yang seakan berubah menjadi kota mati dengan tumpukan mayat, puing-puing reruntuhan bangunan dan genangan air hampir di seluruh bagian tentu menjadi tempat ideal bagi Clostridium perfringens untuk tumbuh dan berkembang.

Bakteri yang biasanya berbentuk spora tersebut akan tumbuh menjadi sel vegetatif dan menghasilkan racun pada suhu 70 sampai 120 derajat Fahrenheit.

Sebuah kasus tentang sepak terjang "clostridium perfringens" ditengarai telah terjadi di NAD ketika dikabarkan terjadi kasus pembusukan jari tangan dua orang relawan warga Aceh, dengan pembentukan gas pada luka tersebut. Kasus tersebut dipastikan bukan herpes karena herpes tidak menempati jaringan yang membusuk.

Pada situs resmi Departemen Sosial, http://www.depsos.go.id, disebutkan bahwa pembusukan yang diakibatkan oleh kontaminasi dari mayat saat melakukan evakuasi jenazah tersebut mengakibatkan tim medis terpaksa mengamputasi jemari korban hingga ke pergelangan tangan.

Infeksi bakteri Clostridium perfringens ditandai dengan demam hingga mencapai suhu lebih dari 39 derajat celcius, kejang dan diare.


Tindakan Pencegahan

Keberadaan "clostridium perfringens" memang tidak dapat dihindari di NAD tetapi itu bukan berarti harus menyurutkan langkah para relawan yang ingin sedikit meringankan beban para penyintas.

Menurut imbauan dari beberapa situs kesehatan, infeksi bakteri Clostridium perfringens dapat dicegah secara preventif dengan melakukan beberapa tindakan khusus.

Diantaranya adalah penggunaan perlengkapan utama seperti masker standar minimal "World Healt Organization" (WHO), "corpses gloves" atau sarung tangan khusus seperti yang digunakan petugas kamar mayat dan topi pelindung kepala.

Peralatan tersebut dimaksudkan untuk mencegah cipratan cairan tubuh dari tubuh mayat yang lengket dan dapat melekat pada tubuh dan rambut sehingga kemungkinan mengkontaminasi makanan yang merupakan salah satu pintu masuk "clostridium perfringens".

Selain menggunakan perlengkapan memadai, para relawan juga dihimbau untuk selalu mencuci tangan setiap sehabis mengangkat satu mayat, selama lebih kurang lima menit dengan hibiscrub brush, sikat pencuci tangan di rumah sakit dan cairan antiseptik.

Serangan "clostridium perfringens" sebelum terlambat, juga bisa diatasi dengan obat-obatan seperti ampicilline, cefotaxime, cairan infus, alkohol, betadine, atau kassa.

Melalui penanganan yang tepat "clostridium perfringens" yang mulanya hanya di kenal sebagai bakteri yang banyak dijumpai pada makanan basi atau makanan yang tidak dimasak secara benar, dan kini tiba-tiba menjadi salah satu mesin pembunuh di kota mati NAD dapat dihindari.


Bahaya psikologis

Selain bahaya dari wabah penyakit menular, para penyintas dan relawan juga rentan terhadap stress dan trauma yang timbul dari tekanan psikologis.

"Hidup di antara puing-puing, genangan air, dan sisa-sisa jasad manusia yang belum terevakuasi bukan lah hal yang mudah. Setiap orang, terutama anak-anak sangat rentan terhadap bahaya trauma atau stress yang berkepanjangan," kata Koordinator "Child In Need Special Protection" (CNSP) Yayasan Kesejahteraan Aanak Indonesia (YKAI), Tata Sudrajat.

Menurut Tata, para penyintas yang terpaksa tetap tinggal di NAD, menatap reruntuhan rumah mereka sambil mengingat keluarga yang hilang sangat rentan terhadap goncangan psikologis sehingga membutuhkan kehadiran para ahli terapi untuk membimbing mereka agar kembali tegar menatap masa depannya.

Tata juga mengatakan bahwa kabarnya mulai ada penyintas yang menunjukkan gejala dan prilaku menyimpan sebagai akibat trauma yang mendalam.

"Oleh karena itu untuk anak-anak sedini mungkin kegiatan sekolah sebaiknya segera dilakukan sedangkan untuk kaum dewasa dapat diberikan bimbingan rohani atau kegiatan lain," katanya.

Sekolah yang dimaksud Tata, bukanlah sekolah dalam arti sesungguhnya, melainkan dapat dilakukan dengan cara memberi anak-anak suatu media untuk berekspresi, misal alat gambar dan lain-lain.

Selain menjangkiti para penyintas, para relawan juga rentan terhadap gangguan psikologis karena secara tidak langsung mereka juga melihat keseharian yang sama dengan para penyintas.

Oleh karena itu, hendaknya para relawan memiliki kesiapan mental dan fisik yang teruji dengan waktu tugas tidak lebih dari dua minggu agar tidak terjadi penurunan stamina.

Dua minggu mungkin dapat menjadi waktu yang pendek bagi para relawan tetapi untuk para penyintas yang tertahan di tenda tanpa tahu hari depannya, dua minggu dapat terasa lama.

Ketika malam berganti siang dan hari berlalu tetapi tiada yang dapat dilakukan selain terdiam merenungi kehidupan dan keluarga yang dulu pernah mereka miliki.

"Bantuan bimbingan psikologis justru yang utama setelah usaha penyelamatan dan kebutuhan fisik mereka terpenuhi," kata Tata.

Bantuan psikologis, sebuah terapi untuk mengajak para penyintas melupakan gempa dan gelombang tsunami setinggi lebih dari delapan meter pada Minggu, 26 Desember 2004 dan optimistis menatap masa depan, melangkah tanpa menoleh ke belakang lagi.

(T.KJ10/A/P003/P003) 08-01-2005 22:32:23
Database Acuan Dan Perpustakaan LKBN ANTARA

Tato Mentawai


gue wawancara sama salah seorang "Sikerei" aka dukun dari Mentawai, serem, badannya penuh tatto.


MENEROPONG BUDAYA MENTAWAI MELALUI "URAI" DAN "TURUK" RITUAL


Oleh Gusti Nur Cahya Aryani


Suku Mentawai yang terkenal dengan tradisi seni melukis tubuhnya atau tatoo mendiami Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, yang terletak sekitar 100 km di sebelah barat Kota Padang, terdiri dari 40 pulau besar dan kecil.

Empat pulau besar non vulkanik yang dapat didiami manusia adalah Siberut (4.097 km2) di utara sebagai pulau terbesar, Sipora (840 km2) di tengah, Pagai Utara dan Pagai Selatan (1.870 km2) di bagian selatan. Tentang asal mula orang-orang Mentawai, tidak banyak yang tahu secara pasti, tetapi Suku Mentawai selalu menganggap bahwa nenek moyangnya berasal dari Nias, Sumatera Utara.

Keyakinan itu dilandasi oleh dongeng yang menceritakan bahwa pada zaman dahulu kala seorang Nias bernama Ama Tawe pergi memancing ke laut. Ketika sedang berada di tengah laut tiba-tiba terjadi badai yang menyeret Ama Tawe terdampar ke Pulau Mentawai di tepi pantai barat Pulau Siberut, tepatnya di daerah Simatalu.

Ama Tawe melihat banyak pohon keladi dan sagu tumbuh sendiri tanpa ada orang yang menanam dan merawatnya sehingga ia berniat menetap di situ. Ama Tawe kembali ke Nias untuk mengambil anak dan istrinya. Keberangkatan mereka ke tempat baru itu ternyata diikuti oleh banyak penduduk Nias lainnya yang ingin merantau ke Mentawai.

Tetapi para ahli rupanya berpendapat lain, menurut mereka orang Mentawai merupakan keturunan dari rumpun Melayu Polinesia dan merupakan gelombang pertama bangsa Asia Daratan yang datang ke Indonesia.

Pada Festival Art Suku yang digelar di Taman Ismail Marzuki, 16 sampai 19 Desember 2004, Suku Mentawai yang hadir untuk membagi kehidupan dan budayanya dengan masyarakat luas adalah mereka yang mendiami Pulau Siberut Selatan.

Menurut Ketua Panitia Festival Art Suku, Maria Darmaningsih, di balik lebatnya hutan tropis Siberut terdapat banyak kesenian tradisional yang tumbuh dan berkembang selama berabad-abad lamanya. "Lingkungan hidup seperti manusia, binatang, hutan, perbukitan, dan sungai-sungai merupakan kesatuan kehidupan di alam Siberut yang sekaligus merupakan roh kesenian," kata wanita yang turut dalam kegiatan survei sebagai persiapan festival.

Di Kepulauan Mentawai tidak ada gunung tinggi. Yang ada hanya perbukitan yang tingginya tidak melebihi 500 meter. Umumnya bertanah subur, datar serta berawa-rawa dengan sungai-sungai kecil, sehingga sarana perhubungan yang paling umum digunakan adalah melalui sungai.

"Mati hutan maka mati pula kehidupan. Tidak ada hutan maka tidak ada orang Mentawai," kata salah seorang Sikerei (pemimpin spiritual) Dusun Muntei Siberut Selatan, Aman Teukat, di Jakarta.

Menurut dia, dahulu sekalipun tujuh hingga delapan bulan tidak hujan, tidak pernah terjadi kekeringan, berbeda dengan kondisi sekarang, tiga atau lima minggu tidak hujan saja sudah kekeringan.

Secara tradisional, orang Mentawai di Siberut Selatan memiliki kepercayaan animisme yang dikenal sebagai Arat Sabulunga di mana semua benda diyakini memiliki jiwa.

Oleh karena itu, mereka percaya jika memperlakukan benda-benda itu di luar batas kebiasaan, dapat berakibat ke dalam kehidupan, bahkan menimbulkan penyakit atau kematian.

Pada praktek berburu pun mereka tidak melakukannya karena sekadar untuk bersenang-senang tanpa mempertimbangkan keseimbangan alam. Itulah sebabnya saat hasil buruan tiba di Uma (rumah adat), dipukul sejenis alat musik dari kayu, obbuk dan bolobok untuk mengumpulkan saudara sesuku.

Kemudian daging hasil buruan dibagikan secara merata serta harus habis tanpa ada yang terbuang percuma. Aturan ini pantang dilanggar, karena dianggap bisa mendatangkan petaka sehingga jumlah buruan menjadi jelas takarannya. Orang Mentawai percaya, pelakunya akan dikutuk menjadi buaya, sebagai lambang ketamakan.

Dampak dari pelanggaran pantangan bukan saja diderita oleh satu orang, tetapi juga dapat menimpa kelompok atau marga yang tinggal dalam satu uma. Uma adalah sebuah rumah tradisional besar yang dihuni beberapa keluarga menurut garis keturunan ayah yang dipimpin oleh tokoh senior yang disebut Rimata. Agar dampak tersebut tidak berkepanjangan, biasanya masyarakat Mentawai menggelar ritual adat untuk menyucikan diri, uma dan lingkungannya yang disebut sebagai upacara pulaijat.

Selain ritual yang diselenggarakan untuk membersihkan diri, masyarakat Mentawai juga percaya bahwa ritual mampu mencegah malapetaka dan membina hubungan baik dengan kehidupan roh atau simagre agar dapat mencapai kebahagiaan sesudah mati di surga (laggai sabeu).

Bagi masyarakat Mentawai, upacara adat lebih dari sekedar sebuah ritual belaka tetapi juga merupakan media untuk berkesenian. Melalui ritual adat mereka mengekspresikan semangat berkeseniaannya dalam musik, tari dan seni sastra.

Itulah sebabnya seorang Sikerei atau pemimpin spiritual, tidak hanya menjadi penguasa wilayah gaib, tetapi juga seorang seniman. Dia dapat berperan sebagai penyanyi atau 'sipuurai' serta penari atau 'sipurutuk'. Sementara itu pakaian laki-laki Mentawai adalah kabit berupa celana yang terbuat dari akar pohon sedangkan yang perempuan memakai rok yang terbuat dari daun pisang hutan yang dikeringkan setengah kering dan dibuat berumbai dan dikenal sebagai 'lakok'.

Sisa dari keratan-keratan pakaian biasanya diambil sebagai hiasan. Gigi mereka sengaja diasah dan diruncing supaya tajam sedangkan tubuh dihiasi dengan tatoo tradisional yang digambar oleh Sikerei dengan menggunakan tinta khusus dari air tebu.


Urai Mentawai

Masyarakat Mentawai memiliki suatu bentuk nyanyian atau seni berolah vokal yang disebut sebagai urai. Urai dibedakan atas nyanyian ritual seperti Urai Simaggere (nyanyian jiwa) serta Urai Ukkui (nyanyian leluhur) dan nyanyian non ritual seperti Urai Goatbaga (nyanyian sedih) serta Urai Paoba (nyanyian cinta).

Secara umum masyarakat Mentawai lebih mengutamakan syair dalam urai, sehingga hanya ada satu urai yaitu Urai Popoet yang diiringi alat musik sebagai satu kesatuan. Sedang urai yang lain, sekalipun dilagukan dengan musik sambil menari, tetapi alat musik atau 'gajeuma' bukan menjadi bagian dari urai melainkan bagian dari tari atau 'muturuk'.

Jumlah urai ritual di Mentawai jauh lebih banyak dari urai non ritual karena semua mantra dari Sikerei berbentuk urai. Misal mantra untuk pengobatan yang disebut 'mulaggek' atau 'pabettei', mantra untuk memanggil roh atau 'simaggere', dan mantra untuk memuji roh leluhur atau 'ukkui'.

Urai ritual milik para Sikerei itu merupakan suatu mantra yang diwariskan secara turun-temurun sehingga syairnya bersifat tetap. Urai ritual itu biasanya diwariskan secara resmi oleh para Sikerei Siburuk atau para guru Sikerei kepada Sipukerei Sibau atau calon Sikerei pada upacara Mukerei yang bertujuan untuk melantik para Sikerei muda.

Karena masyarakat mentawai menganggap bahwa urai ritual besifat mistis maka tidak semua orang mampu menjadi Sikerei, tetapi hanya orang-orang tertentu yang memiliki bakat, keturunan Sikerei, atau mampu berkomunikasi dengan makhluk gaib.

Sementara itu syair pada urai non ritual tidak selalu persis sama, biasanya hanya tema saja yang sama tetapi syairnya dapat berbeda tergantung dari siapa yang membawakan, misal pada lagu-lagu yang bertemakan cinta kasih.


Turuk Mentawai

Turuk atau tarian bagi masyarakat Mentawai bukan sekedar tarian yang bersifat hiburan tetapi juga gerakan-gerakan melingkar oleh beberapa Sikerei ketika mencari roh atau simaggere orang sakit pada suatu upacara pengobatan.

Pada umumnya turuk diiringi oleh musik perkusi 'tuddukat' yang berupa tiga atau empat kentongan berdiameter satu hingga tiga meter yang disebut sebagai 'ina', 'katengan', 'tatoga 'dan 'tetektek tuddukat'. Tarian di Mentawai biasanya dilakukan dengan sikap tubuh penari yang hampir sama yaitu sedikit membungkuk dan kepala cenderung kaku menghadap ke depan mengarah ke bawah, mendatar dan ke atas sementara itu kaki penari dihentakkan ke lantai papan atau 'puturukat'.

Suatu fenomena khas yang hampir selalu ada pada turuk ritual Mentawai adalah peristiwa 'igobok' atau 'irorok', yaitu ketika sang penari mengalami kesurupan. Tarian-tarian yang berhubungan dengan makhluk gaib hanya boleh ditarikan oleh para Sikerei atau istri Sikerei.

Tarian ritual yang paling sering diselenggarakan adalah tarian yang digunakan pada upacara pengobatan sederhana atau kmulaggek'. Jika belum sembuh maka diadakan suatu upacara pengobatan besar atau 'pabettei' yang melibatkan tiga sampai enam orang Sikerei yang bersama-sama menarikan turuk lajjou untuk menjemput roh orang yang sakit.

Pada upacara tersebut para Sikerei membunyikan lonceng kecil yang disebut sebagai 'jejeneng' dengan satu tangan sementara itu tangan yang lain membawa piring berisi sesaji .

Walaupun sebagian besar tarian adalah milik para Sikerei tetapi masyarakat biasa juga memiliki tarian non ritual yang bersifat sebagai hiburan semata seperti tari menangkap udang, monyet dan elang. Tari-tarian tersebut berkembang dari adat kebiasaan sehari-hari.

(T.KJ10/B/K002/K002) 20-12-2004 21:22:35
Database Acuan Dan Perpustakaan LKBN ANTARA

Mranggi


Ada suatu desa di sudut Yogyakarta yang hampir seluruh warganya berprofesi sebagai Mranggi. Gue besar di Yogya, tapi ternyata gue baru tahu desa itu setelah merantau ke Jakarta. Silly.





SPEKTRUM/SENI : "MRANGGI", LEBIH DARI SEKEDAR SEORANG PERAJIN

Oleh Gusti Nur Cahya Aryani

"Curiga Manjing Warangka" adalah salah satu simbol akan lahirnya filosofi "manunggaling kawula Gusti" atau bersatunya abdi dengan raja, insan kamil dengan pencipta, serta rakyat dengan pemimpin sehingga tercipta hidup aman, damai, tenteram, dan bahagia yang tercermin dari hubungan antara keris dengan sarungnya.

Itulah sebabnya ketika berbicara tentang keris, senjata tradisional Jawa, mau tidak mau orang juga harus bicara tentang warangka atau sarung keris karena keris dan warangka adalah suatu kesatuan.

"Sebuah keris yang bagus sebaiknya juga memiliki warangka yang sepadan, sehingga nilai keris itu tidak berkurang," kata KRT. Hartonodiningrat, seorang Empu Keris kepada ANTARA, 12/10, Selasa. Empu adalah istilah yang digunakan untuk menyebut seseorang yang ahli dalam membuat keris.

Menurut dia, sebuah warangka yang bagus, nilainya bisa sama tinggi dengan nilai keris, tetapi sayangnya tidak cukup mudah menemukan seorang "mranggi" (pengrajin warangka) yang bagus.

"Saat ini tidak banyak anak muda yang cukup tertarik untuk menekuni keahlian membuat warangka keris, karena memang tidak mudah," ujarnya.

Oleh karena alasan itu juga, beberapa orang kolektor keris yang dijumpai pada acara seminar keris di Museum Nasional , Jakarta, 12/10, mengatakan, untuk memperoleh warangka keris yang tepat dari sisi bentuk, relief, bahan ataupun warnanya, bukanlah hal yang mudah.

Seorang mranggi, seperti laiknya empu harus memiliki pengetahuan luas tentang keris sehingga dia bisa menentukan warangka yang tepat untuk suatu jenis keris.

"Terus terang itu memang tidak mudah, saya yang sudah sepuluh tahun lamanya menjadi seorang mranggi saja belum bisa dibilang cukup ahli," ujar Sugeng, mranggi yang berasal dari padepokan Tosan Aji Joglo Semar.

Mranggi yang profesional lebih dari sekedar pengrajin biasa, karena dia tidak sekedar menguasai tehnik menempa besi dan mengukir kayu tetapi juga mampu melihat nilai filosofi dari setiap bahan yang digunakan.

Sebuah warangka dibagi dalam tiga bagian yaitu, pegangan, pendok atau penutup bilah keris, dan gandar atau penghubung antara pegangan dengan bilah.

"Karena memang cukup sulit, maka untuk membuat tiga bagian tersebut juga dibutuhkan tiga orang yang berbeda, tiap orang memiliki keahlian yang berbeda," kata Jaka Purnama, seorang mranggi yang mengaku hanya dapat membuat pegangan keris.

Secara sederhana warangka keris dapat dibedakan dari bentuk gandarnya.

Ada empat jenis gandar, yaitu Gayaman yang digunakan untuk keperluan sehari-hari, Landrang untuk upacara adat, Sandang Walikat bentuk paling sederhana dari gandar dan Tengah yang menjadi ciri khas keris dari luar Pulau Jawa dan Bali.

Sedangkan nilai keris dapat ditentukan diantaranya dari pamor atau motif kayu pada pegangan dan gandar yang disebut pelet.

Bagi sebagian orang pelet dipandang memiliki "tuah" atau kekuatan mistis dimana setiap jenis kayu tertentu akan cenderung menghasilkan pelet yang khas.

Misal pelet jenis "Gandrung" yaitu motif titik hitam yang dipercaya membawa kepopuleran dan cinta, lalu "Dewaduru" yaitu motif garis gelap terang yang membawa keberuntungan dan "Ceplok Banteng" yaitu motif titik-titik hitam yang saling berdekatan dan dianggap mampu mendatangkan kekuasaan bagi pemiliknya.



Tehnik Pembuatan Warangka


Untuk membuat bagian pegangan dan gandar menurut Jaka, diperlukan keahlian mengukir dan penguasaan akan pelet sehingga dapat memunculkan pelet yang khas dari setiap jenis kayu.

Sedangkan untuk membuat pendok, mranggi terkadang memerlukan waktu yang lebih lama, apalagi pada jaman dulu ketika logam yang digunakan belum berupa lempengan tipis tetapi berbentuk balok yang perlu ditempa berulang-ulang untuk menghasilkan lembar yang tipis.

Sabar, seorang ahli pembuat pendok dari kelompok Jaka mengatakan, biasanya dia dibantu oleh dua orang untuk membuat pendok.

Pembuatan pendok diawali dengan memotong dan membentuk lempengan kuningan menggunakan cetakan dari besi yang disebut "sunglon".

Setelah diperoleh bentuk dasar dari pendok maka ke dalam bagian pendok yang berongga dimasukkan jabung yaitu sejenis damar yang tampak mirip aspal kental. "Tujuan dari penggunaan jabung adalah agar ketika pendok diukir tidak melengkung," kata Sabar.

Setelah proses pengukiran selesai maka pendok dibakar diatas api untuk mengeluarkan jabung yang telah mengeras.

Untuk tahap "finishing" atau penyelesaian, pendok yang tampak hitam itu lalu dibersihkan dan dilapisi dengan emas, kuningan atau perak sesuai pesanan.

"Setelah pendok siap setiap bagian dari warangka itu lalu dirangkai menjadi satu, terkadang ada juga orang yang menginginkan warangka keris dihiasi dengan batu mulia sehingga harganya pun mahal," katanya. Rata-rata setiap orang membutuhkan tiga hari untuk menyelesaikan tiap bagian, tetapi apabila motif yang dikehendaki relatif rumit dapat lebih lama.

"Terkadang untuk keris pamor tertentu yang belum kami miliki referensinya, butuh waktu lebih lama untuk mempelajarinya dahulu, atau jika bahan yang digunakan relatif langka, dapat juga membuat waktu pengerjaan lebih lama," kata Jaka.

Jenis kayu yang cukup langka diantaranya adalah kayu Timoho, Trembalo, Cendana Timor, Tayuman dan Nagasari.


Keahlian Turun Temurun



Jaka mengatakan, keahlian membuat sebuah warangka keris memang tidak banyak dikuasai orang tetapi di dusun Banyu Sumurup, desa Girirejo, kecamatan Imogiri, Bantul Yogyakarta, keahlian itu telah berkembang secara turun temurun.

Di tempat kelahirannya itu, sekitar satu dua kilometer dari makam raja-raja Mataram Imogiri, Jaka tidak sendiri, hampir semua orang penduduknya memiliki keahlian untuk membuat warangka yang diwariskan secara turun temurun.

Hampir di setiap rumah dapat ditemui contoh model warangka atau peralatan untuk membuatnya. Menurut Jaka, yang juga merupakan sekertaris desa ditempat itu, desanya memang merupakan pusat kerajinan warangka keris.

"Warangka di sini secara umum dibedakan menjadi dua, pertama yaitu warangka yang hanya merupakan produk kerajinan tangan sedangkan yang kedua adalah warangka yang memiliki nilai seni lebih," katanya.

Sedangkan tentang jenis warangka yang paling banyak diminati masyarakat, Jaka mengatakan, oleh karena secara umum keris dianggap berasal dari Jawa, tepatnya kraton Yogyakarta dan Solo, maka kebanyakan para pemesan warangka keris juga menginginkan gaya tersebut.

"Gaya Yogya dan Solo relatif sama satu sama lain, apabila terdapat perbedaan hanya terletak pada ukurannya saja, warangka keris gaya Yogya umumnya lebih kecil dari gaya Solo," kata Jaka.

Selain itu bentuk pendok gaya Yogya lebih bulat dan ukiran lebih kecil dibanding gaya Solo yang cenderung memiliki pendok pipih dan ukiran besar.

Ketika ditanya tentang harga setiap warangka yang dihasilkannya, Jaka mengatakan, itu sangat tergantung dari tingkat kesulitan, antara Rp1 juta sampai Rp15 juta.

"Untuk kolektor terkadang mereka menghendaki kayu yang digunakan tanpa diplitur atau dicat, jadi harus betul-betul halus pengerjaannya," katanya.

Warangka yang dicat atau diplitur disebut sebagai "sunggingan". Mranggi, Jaka menambahkan, lebih dari sekedar perajin, dibutuhkan seorang seniman sejati untuk menghasilkan sebuah warangka yang bagus, apalagi saat ini fungsi keris telah bergeser menjadi "artefak seni" bukan lagi senjata.

(T.KJ10/B/S005/P003) 21-10-2004 21:26:19
Database Acuan Dan Perpustakaan LKBN ANTARA

Kain Bentenan

Salah satu tulisan gue sewaktu masih sering bolak-balik ke Museum Tekstil Tanah Abang, tempat favorit gue untuk cari inspirasi memenuhi quota tugas bikin artikel.

SPEKTRUM/BUDAYA : KAIN BENTENAN, PUSAKA TERPENDAM MINAHASA

Oleh Gusti Nur Cahya Aryani

"...tidak ada satupun daerah di Indonesia seperti Minahasa yang kebudayaan kunonya sangat cepat hilang sama sekali."
Kutipan yang terdapat pada halaman tujuh dari buku Dr. Hetty Palm yang berjudul "Marcopolo-Ancient Art of The Minahasa", sekitar 1961, itu menjadi salah satu bukti ketika banyak orang Minahasa, Sulawesi Utara, yang tidak mengenal kain tradisionalnya.
"Masyarakat luas menduga bahwa Minahasa, tidak memiliki kain tradisional padahal daerah tersebut mempunyai kain bentenan, jadi wajar jika ada beberapa orang yang tekejut ketika kain bentenan dinyatakan sebagai kain tradisional Minahasa," kata Yessi Wenas, Penggagas Himpunan Seni dan Budaya Minahasa (HIMSA).
Salah satunya adalah Wakil Direktur Erasmushuis, Antje Vels Heijn, yang mengatakan sekalipun pernah ke Manado, Sulawesi Utara, tetapi dia tidak tahu jika Minahasa mempunyai kain tradisional.
Senada dengan Vels Heijn, Ryani, mahasiswa sebuah Universitas Swasta di Jakarta pun mengatakan bahwa dia belum pernah mendengar nama kain tradisional Minahasa sebelumnya.
Oleh karena itu kiranya tidak berlebihan apabila sehelai kain berukuran panjang 1.67 meter dan lebar 1 meter yang telah berusia lebih dari 100 tahun dan terpajang di salah satu "display" Museum Tekstil Jakarta, 15/9, memperoleh perhatian lebih dari para pengunjung.
Kain itu adalah koleksi Museum Nasional Indonesia yang merupakan satu-satunya kain bentenan di Indonesia, karena kain tradisional Minahasa itu diyakini telah lama punah atau hilang dari kebudayaan Minahasa.
Kain Bentenan adalah pusaka terkubur dari Minahasa yang menuntut diselamatkan oleh generasi penerus yang peduli. Data dari Museum Tekstil dan HIMSA menyebutkan, kain Bentenan telah lama menghilang dari kehidupan masyarakat Minahasa, bahkan di desa Bentenan, Sulawesi Utara pun sudah tidak dapat ditemui lagi orang yang mampu menenun kain itu.
Yessi mengatakan, di dunia ini hanya ada lima buah kain Bentenan, satu di Indonesia, satu di Museum Furvolkerunde Jerman dan sisanya di Museum Royal Tropical Institute Belanda.
Kain Bentenan ditenun di daerah pesisir Minahasa seperti Pasan, Ratahan, dan Ponosokan. Menurut sumber dari buku S. Pangemanan pada 1919, "Kerajinan Rakyat Minahasa", kain Bentenan terakhir ditenun sekitar 1900 di daerah Ratahan.
Kain Betenan yang ditenun dengan teknik tenun dobel ikat pakan, kain diikat lalu dicelup kemudian diikat lagi, menggunakan warna merah sebagai warna dominan.
Sementara itu motif geometri dan orang pada kain Bentenan diduga berasal dari kepercayaan masyarakat Minahasa pada saat itu, yaitu animisme.
"Zat warna yang digunakan adalah zat warna alami, dan beberapa jenis tumbuhannya masih dapat dijumpai di Sulawesi Utara," kata Yessi.
Dia mencontohkan, warna biru biasanya diperoleh dari pohon Taun, kemudian apabila ditambah dengan air kapur sirih, maka warna biru itu akan berubah menjadi hitam. Pengetahuan tentang kain bentenan selama ini hanya diperoleh dari data literatur.
Menurut Yessi, orang Belanda mulai menulis tentang kain ini pada 1870-an dengan menyebutkan bahwa dua komoditi utama Belanda adalah Emas dan kain tenun.
"Yang dimaksud dengan kain tenun ini mungkin kain tenun Minahasa yang diekspor melalui pelabuhan Bentenan," katanya.

Pasolongan Rinegetan

Kain bentenan tidak seperti batik yang tak lekang dimakan zaman. Kain tradisional Jawa mampu tetap eksis di tengah kemajuan industri tekstil Indonesia, kata Thomas Sigar, salah seorang perancang busana yang juga penggagas HIMSA.
"Alasan pasti mengapa kain Bentenan punah tidak ada yang tahu pasti, tetapi menurut analisis saya dari literatur hal itu terjadi karena masuk budaya baru yang dibawa orang asing," katanya.
Menurut Thomas, kain Bentenan dahulu merupakan kain yang sakral di kalangan masyarakat Minahasa, kain itu hanya digunakan pada upacara keagamaan.
Pada koran "Tjahaya Siang" terbitan 1880, sebelum kain Bentenan ditenun, si penenun wajib menyanyikan lagu "Ruata" yang artinya Tuhan.
Hal itu dilakukan agar kain Bentenan dapat ditenun sebaik mungkin, sehingga menghasilkan tenunan yang bagus dan halus sebagai simbol rasa syukur pada Tuhan.
Pada upacara keagamaan kain Bentenan hanya boleh dipakai kepala upacara keagamaan, Walian, dan Tonas. Walian dan Tonas memakai kain Bentenan sebagai atasan dengan cara melipat dua kain berbentuk persegi panjang dan melubangi bagian tengahnya untuk tempat memasukkan kepala.
Bagian tengah kain yang berlubang itu disebut "Sumolong", kemudian agar tampilannya lebih indah bagian bawah kain digantungkan lonceng-lonceng kecil dari tembaga yang disebut "Egetan".
Itulah sebabnya kain Bentenan tempo dulu yang dianggap sakral itu disebut sebagai "Pasolongan Rinegetan".
Kain Bentenan yang disimpan di museum nasional pun disebut sebagai Pasolongan Rinegetan karena dibuat sekitar 1850.
Menurut N. Graafland pada bukunya, 1889, ketika Pasolongan Rinegetan mulai diperjualbelikan secara bebas ke luar Minahasa, nilai kesakralannya mulai menurun, sehingga istilah Pasolongan Rinegetan diubah menjadi Bentenan karena kain itu dijual melalui pelabuhan Bentenan.
Thomas mengatakan, ketika Belanda mulai memasuki Minahasa untuk menyebarkan agama Kristen, orang Minahasa mulai merasa bahwa untuk sederajat dengan orang Belanda mereka juga harus bertingkah laku seperti orang Belanda.
"Untuk menyamakan derajatnya dengan orang asing, orang Minahasa meninggalkan kebiasaannya," kata Thomas. Salah satunya adalah ketika orang Minahasa mulai meninggalkan kain bentenan, karena mereka mulai "risih" memakai kain yang memiliki motif animisme.
"Ketika semua beralih ke kain pesisiran tentu saja kain Bentenan punah karena tidak ada lagi yang menenunnya, apalagi kemudian mata pencarian sebagian besar warga Bentenan juga beralih dari penenun menjadi nelayan," ujarnya.
Oleh karena itu, Thomas menambahkan, tidak heran jika sekarang warga Bentenan pun tidak banyak yang tahu tentang kain tradisionalnya.

Pusaka Terpendam

Kain bentenan adalah pusaka terpendam Minahasa, sehingga HIMSA merasa perlu berusaha keras menggali kembali kilau budaya kain tradisional Minahasa itu.
"Ada kebanggaan tersendiri ketika mengatakan Minahasa memiliki kain tradisional,' kata S. Ratulangi, salah seorang wakil dari HIMSA. HIMSA boleh berbangga ketika Juli 2004, Thomas Sigar mampu mereproduksi kain bentenan kembali, walaupun belum dapat dikatakan sepenuhnya mirip dengan kain aslinya karena perbedaan teknik yang digunakan.
Kain reproduksi karya Thomas dibuat dengan teknik tenun lungsi pada tahap awal ini karena apabila menggunakan tehnik tenun dobel ikat pakan membutuhkan persiapan yang lebih lama.
"Alat tenun yang saya gunakan hanya mampu membuat kain sepanjang 1.10 meter jadi saya kehilangan sekitar 0,5 meter, akibatnya motif kain bentenan hasil reproduksi lebih sederhana," kata Thomas.
Pada kain reproduksinya, Thomas tidak menampilkan beberapa baris ornamen atau detail yang kecil dan menggantinya dengan garis satu warna dengan maksud agar motif utamanya dapat ditampilkan seluruhnya. "Miskinnya data adalah hambatan utama dari pengembangan utama kain ini. Satu-satunya sumber saya cuma kain yang ada di Museum Nasional, lainnya hanya dari literatur yang hitam putih jadi terus terang saya kesulitan mencari referensi warnanya," ujar Thomas ketika menjelaskan alasan mengapa dia hanya menggunakan warna merah, hitam, biru, hijau, dan kuning.
Sampai saat ini Thomas telah menenun tiga jeniS kain bentenan yang diberi nama kaiwu pusaka, kaiwu pasolongan dan lalita di Troso, Jepara, tempat pertama kalinya Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) dikembangkan pada 1970an.
Perbedaan dari setiap jenisnya terutama terletak pada detail motif dan warna dominan yang digunakan. Keunikan dan kekhasan kain bentenan, menurut Thomas terletak pada motifnya, bagaimana orang Minahasa mampu menerjemahkan motif kain Pantola dari India ke kain tradisional merupakan rahasia tersendiri.
"Selain itu kain ini relatif lebih halus dibandingkan dengan kain tenun pada umumnya sehingga adaptasi kain bentenan ke pakaian moderen sangat memungkinkan karena kain ini nyaman dipakai."
Senada dengan Thomas, Yessi dan para penggagas HIMSA yang lain juga sepakat bahwa salah satu cara untuk membuat kain bentenan eksis kembali adalah dengan cara mempopulerkan kain itu pada masyarakat moderen.
"Orang asing saja banyak yang mengambil motif tradisional kita dan kemudian mematenkannya, jadi mengapa kita tidak berusaha menggali budaya kita, pusaka kita, sebelum orang lain mengklaimnya," kata Thomas. (T.KJ10/B/S005/B/S005) 17-09-2004 22:26:43
Database Acuan Dan Perpustakaan LKBN ANTARA

Buruan Cium Gue


Tulisan yang gue bikin ketika orang-orang yang mengatas-namakan moral turun ke jalan memprotes sebuah JUDUL film. Tulisan waktu gue masih belajar menghafal sembilan jenis lead-feature.





02-09-2004


SPEKTRUM/SENI : SEBENTUK DIALOG TAK BERTEPI TENTANG SENI


Oleh Gusti Nur Cahya Aryani

Masih ingat kasus Inul Daratista yang gaya panggungnya sempat menimbulkan kontroversi sekitar setahun lalu, 2003, karena dinilai melanggar nilai kesopanan?
Saat itu masyarakat Indonesia secara umum terbelah dua, sebagian membela Inul, sedangkan sisanya berada di sisi yang berseberangan. Orang-orang yang pro Inul, berlindung di balik kata-ata "seni".
Menurut mereka, itu adalah hak dari Inul untuk menunjukkan kreativitas dan cita rasa seninya.
Sementara itu sisanya, berpegang pada norma-norma agama dan kesopanan, yang menurut mereka telah dilanggar oleh Inul.
Tarik ulur masalah tersebut memang cukup lama sampai akhirnya kontroversinya "hilang" tanpa penyelesaian yang jelas, tidak diketahui pihak mana yang benar ataupun salah.
Kemudian saat ini, Agustus 2004, publik seakan dibawa kembali ke suasana satu tahun lalu, dengan kontroversi yang sama tetapi dalam kemasan yang berbeda.
Sebuah film remaja, "Buruan Cium Gue" (BCG) tiba-tiba memanen kritik dari banyak kalangan, yang berakhir dengan ditariknya film tersebut dari peredaran.
BCG, bercerita tentang seorang siswa kelas tiga SMA, Desi, yang belum pernah sekali pun berciuman dengan pacarnya, Ardi, walaupun mereka sudah pacaran dua tahun lamanya.
Sesuai dengan judulnya, maka film tersebut juga menampilkan adegan ciuman dari bintang utamanya, Masayu Anastasia dan Henky K Chova.
Sebetulnya bukan sekali ini film Indonesia menampilkan adegan sejenis, tengok saja "Petualangan Sherina", film yang disebut-sebut sebagai pelopor kebangkitan film Indonesia, Derby Romeo yang masih duduk di Sekolah Dasar mencium kening Sherina, lawan mainnya.
Lalu "Ada Apa dengan Cinta", Nicholas Saputra mencium Dian Sastro di bandara dan "Eifel I'm in Love", Samuel Rizal mencium Shandy Aulia, artis belia yang baru kelas tiga SMP.
Budaya Barat ini sudah lama masuk ke Indonesia dan mencapai puncaknya dalam film BCG, karena secara nyata dicantumkan pada judul film.
Itulah alasan mengapa Abdullah Gymnastiar yang lebih dikenal dengan sebutan A'a Gym sampai mengatakan bahwa judul film tersebut lebih tepat, "Buruan Zinahi Gue".
Pemimpin Daarut Tauhid, Bandung, tersebut bersama dengan orang-orang yang merasa perlu untuk melindungi moral generasi muda menyampaikan keberatan mereka ke Lembaga Sensor Film (LSF).
Tetapi penarikan film BCG dari pasaran juga menimbulkan protes dari Eksponen Pendukung Kebebasan Berekspresi (Ekspresi).
Ekspresi menyatakan protesnya terhadap pelarangan yang dilakukan beberapa pihak yang mengakibatkan ditariknya film BCG dari peredaran, pada jumpa pers yang diadakan di Teater Utan Kayu, Kamis, 26/8.
Pernyataan tersebut tidak hanya didukung oleh kalangan sineas dan pemain film, tetapi juga termasuk aktivis, seperti Ulil Abshar-Abdalla dari Jaringan Islam Liberal, beberapa wartawan, mahasiswa maupun aktivis Hak Asasi Manusia (HAM).
"Seni" kembali dipersalahkan, coba ditarik dan diuraikan dari dua buah sisi yang berbeda serta sudut pandang yang berlainan.

Paradigma Seni

"Di Indonesia ada perbedaan pendapat tentang paradigma seni, sebagian mengatakan bahwa seni untuk seni atau seni untuk kreativitas sedangkan sebagian sisanya yang merupakan kaum agamawan berpendapat bahwa seni untuk ibadah atau seni untuk pengabdian kepada Tuhan," kata Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Prof.DR.H.M.Din Syamsuddin.
Dalam acara dialog dengan sebuah rumah produksi, Din mengatakan masyarakat umumnya beranggapan bahwa seni adalah salah satu wujud dari kebebasan untuk berekspresi, jadi ketika kalangan agamawan mengkritik suatu bentuk kesenian maka dibilang sebagai memasung kreativitas.
Padahal dalam "Four Freedom" yang pernah dikemukakan oleh Presiden Amerika Serikat, F.D. Roosevelt, pada 6 Januari 1941, kebebasan seni itu tidak ada, yang ada justru kebebasan beragama.
"Artinya, untuk berkesenian memang bebas tetapi bukanlah suatu kebebasan yang mutlak, jadi harus memandang norma-norma disekitarnya juga, jangan karena alasan ingin diakui kebebasan berkeseniannya tetapi justru melanggar kebebasan yang lebih mendasar yaitu kebebasan beragama," kata Din.
Pada kesempatan itu, Senin, 23/8, beberapa pemuka majelis agama bertemu dengan perwakilan dari sebuah rumah produksi untuk berdialog menyamakan visi dan persepsi tentang seni, berusaha mencari pemecahan terbaik tentang bentuk seni yang layak tayang di publik.
Produser sebuah rumah produksi yang ikut dalam dialog tersebut juga sempat menanyakan jenis film yang dapat diterima oleh kaum agamawan, karena jika terlalu banyak larangan yang tidak jelas dia khawatir film Indonesia tidak akan dapat berkembang.
"Liatlah film 'Children of Heaven' yang menang festival itu, kenapa tidak tertantang untuk menghasilkan film bermutu yang tidak bertentangan dengan norma, jangan seperti tayangan di televisi sekarang," jawab Din.
Selama ini, entah sudah berapa kali terjadi benturan dalam masyarakat yang diakibatkan oleh cara pandang yang berbeda tentang seni.
Ekspresi, menyatakan bahwa pelarangan tidak mencerdaskan bangsa Indonesia, dan hanya dalam kebebasan, para seniman dan pekerja seni bisa mengolah dan meningkatkan keterampilan, serta mutu karya mereka.
"Kami cemas, sekali alasan itu dipakai, ia bisa dimanipulasi dan disalahgunakan setiap waktu untuk memberangus kebebasan berkarya. Ini bukan saja membahayakan kebebasan berekspresi, namun pada gilirannya juga akan membahayakan demokrasi negeri ini," kata Riri Reza, sutradara film Eliana-Eliana yang dibintangi oleh Djajang C Noer dan Rachel Maryam.
Sementara itu Suprapto, wakil dari LSF yang hadir dalam pertemuan di Masjid Istiqlal, 23/8, mengatakan bahwa sebenarnya yang dikritik oleh masyarakat terutama adalah judul film itu.
"Pihak LSF meloloskan film tersebut karena selama ini sudah ada beberapa film Indonesia yang menampilkan adegan sejenis dan masyarakat tidak protes," katanya.
Akan tetapi, dia menambahkan, bisa juga dulu masyaraktat tidak protes karena mereka tidak tahu jika film tersebut menampilkan adegan seperti itu.
LSF akan lebih hati-hati lagi lain kali tetapi dengan adanya bantuan dari masyarakat yang telah jauh lebih kritis semua pasti lebih mudah," ujarnya.

Strategi Budaya

Berapa jumlah stasiun televisi di Indonesia saat ini? Setidaknya ada satu buah televisi milik negara, yaitu Televisi Republik Indonesia (TVRI) dan sedikitnya ada sembilan buah televisi swasta yang mengudara.
Di antara sembilan televisi swasta tersebut ada beberapa buah yang mengudara selama 24 jam nonstop menyajikan berbagai jenis acara mulai dari informasi hingga hiburan.
"Industri televisi itu dari tahun ke tahun perkembangannya pesat, baik secara kualitas ataupun kuantitas, lihat saja acaranya makin beragam dari waktu ke waktu," kata Ketua Bagian Anak dan Keluarga MUI, Prof. Dr. Zakiah Drajat kepada ANTARA, Senin, 23/8.
Tetapi sayang seiring perkembangannya, televisi juga melalaikan beberapa hal penting, di antaranya yaitu nilai-nilai moral dan fungsi sosialnya sebagai suatu media yang mempunyai tanggung jawab untuk mencerdaskan masyarakat.
"Lambat laun televisi lebih cenderung sebagai media hiburan dan melupakan nilai-nilai pendidikan," kata Zakiah.
Menurut Zakiah, televisi sebagai media audivisual adalah suatu alat yang yang sangat efektif untuk mempengaruhi sikap generasi muda, terutama anak-anak.
Anak-anak itu relatif lebih mudah menerima informasi dari televisi, karena mereka melihat sekaligus mendengar
"Jika ingin manampilkan contoh yang buruk, misal adegan memukul, cukup katakan saja tidak perlu adegan berkelahi yang penuh darah itu ditampilkan karena adegan tersebut justru dapat dijadikan contoh bagi anak-anak," ujarnya.
Senada dengan Zakiah, Seto Mulyadi, pemerhati masalah anak yang lebih dikenal sebagai Kak Seto mengatakan bahwa tayangan televisi sekarang tidak cukup baik bagi anak-anak.
"Selama ini budaya kita yang salah sehingga anak hidup dengan telvisi lebih dari 10 jam sehari sehingga mereka memperoleh sampah informasi," katanya pada seminar Pengembangan Anak Dini Usia tingkat ASEAN, Selasa, 24/8.
Film BCG memang telah ditarik dari peredaran tetapi masalah tentang pro dan kontra tersebut entah sampai kapan akan selesai.
Pembahasan pro dan kontra pencekalan terus berlanjut, setidaknya pada Festival Budaya Jakarta 2004, 2/9, Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia mengangkat tema tersebut dalam sebuah acara dialog.
Dan seperti yang dikatakan Din Syamsuddin, mungkin benar, sudah saatnya semua elemen bangsa duduk bersama untuk menyatukan visi tentang strategi budaya, agar seni tidak lagi dikambinghitamkan oleh orang yang berlindung dibalik kata seni untuk mencari hal-hal yang bersifat duniawi.
(T.KJ10/B/S005/B/S005) 02-09-2004 22:26:33
Database Acuan Dan Perpustakaan LKBN ANTARA