gue suka ngobrol sama Meschke karena dia pentasin "Little Prince", salah satu kisah favorit gue tentang seorang pangeran kecil yang kesepian, sangat kesepian
MELONGOK DUNIA BONEKA MICHAEL MESCHKE
Oleh Gusti Nur Cahya Aryani
Berawal dari infeksi telinga yang mengganggunya sejak usia lima tahun, kecintaan Michael Meschke terhadap dunia boneka terbangun.
"Waktu saya kecil, infeksi telinga itu sangat mengganggu, sampai kemudian untuk menghibur saya, ayah saya memberi saya beberapa wayang dari Birma. Wajah-wajah ceria yang saya temui itu memberikan kebahagiaan tersendiri dan itu menjadi awal perjalanan saya di dunia boneka," kata pendiri sekaligus sutradara Stockholm Marionette Theatre itu.
Menurut Meschke, sedikit banyak sejak saat itulah dia mulai berniat serius untuk menggeluti dunia boneka. Dan waktu pun berlalu sehingga di awal 2005 ini telah lebih dari 40 tahun, pria kelahiran Danzig, Jerman, 73 tahun lalu itu berkarya dalam dunia yang identik dengan anak-anak itu.
"Boneka memang identik dengan anak-anak tetapi saya merasa miris jika ada orang yang memiliki anggapan bahwa seorang seniman tidak dapat mengeksplorasi jiwa seninya hanya gara-gara memilih untuk berkecimpung di dunia anak-anak," ujar Meschke.
"Melalui boneka-boneka saya, terutama 'Little Prince', saya belajar banyak tentang cara untuk menyampaikan pesan-pesan sulit kepada anak-anak dalam bingkai seni yang menarik," ujarnya.
Dan Meschke membuktikan semuanya itu dalam setiap karyanya, entah itu repertoar, pertunjukan boneka, patung, atau pun teater yang telah digarapnya.
Beberapa karyanya yang mendapat pengakuan dan memperoleh tempat khusus dalam riuh dunia seni internasional, seperti "The Lonely Ear", "The Grand Macabre", "The Story of a Soldier" dan tentu saja "The Little Prince" menghantarkan Mesche pada anugerah professor kehormatan dari pemerintah Swedia di 1993. Ketika ditanya tentang animo generasi muda yang mungkin tidak sebagus dahulu terhadap pertunjukan boneka karena modernisasi yang mengakibatkan beberapa tokoh klasik boneka tergusur oleh pahlawan-pahlawan maya dari dunia "computer game", Meschke mengungkapkan beberapa pandangannya. "Modernisasi memang tidak dapat dibendung tapi itu justru menjadi suatu tantangan khusus bagi orang seperti saya agar tetap eksis, entah itu dengan menggiatkan 'workshop' atau meningkatkan mutu pertunjukan dengan memanfaatkan modernisasi itu sendiri," ujar pria yang beremigrasi ke Swedia bersama keluarganya sejak 1939 itu.
Keoptimisan dan dedikasi Meschke terhadap dunia boneka itulah rupanya yang membuat beberapa institusi di berbagai negara seperti, Indonesia, Perancis, Norwegia dan Thailand, sempat memanggilnya untuk membagi pengetahuan dan pengalamannya selama malang melintang di dunia yang penuh fantasi itu. "Kita perlu yakin dengan apa yang kita kerjakan, ketika saya memulai perjalanan saya di dunia boneka, bukan suatu hal yang mudah mengingat di Eropa boneka atau wayang bukanlah suatu budaya yang terlalu mengakar seperti di Asia, terutama Indonesia," kata Meschke yang sore itu mengenakan kemeja berwarna oranye terang.
Gantung Boneka
Lebih dari separuh hidup anak sulung seorang pendeta bernama Kurt Meschke itu didedikasikan pada boneka. Adakah dia berkeinginan untuk berhenti?
"Tidak, tapi ada saat di kala saya memang pernah berniat berhenti membawakan satu lakon yaitu 'The Little Prince', karena sudah lebih dari 25 tahun saya mementaskannya lebih di 15 negara," ujarnya.
Niat untuk berhenti tersebut tidak terwujud kala salah seorang sahabatnya, sutradara terkenal asal Swedia, Peter Oskarson memintanya untuk menciptakan versi baru dari legenda "The Little Prince".
"Saat itu, 2003, dia meminta saya untuk mencoba menggelar sebuah pertunjukan boneka yang berkolaborasi dengan para aktor. Saya bilang tidak mungkin, tetapi Peter memaksa saya untuk mencobanya," kata pria kelahiran 14 Juli 1931 itu.
Program itu ternyata membuahkan hasil yang di luar dugaan Meschke, para aktor yang disodorkan Oskarson dapat memainkan boneka-boneka itu dalam waktu hanya sekitar enam minggu.
"Mereka luar biasa. Hal itulah yang membuat sang pangeran kecil tidak jadi pensiun dan kini hendak menggelar tur Asianya yang ke dua setelah 30 tahun," kata Meschke.
Ditemui di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki (TIM), Selasa (22/2), Meschke mengatakan bahwa salah satu alasannya memilih Jakarta sebagai kota pertama yang disinggahinya dalam tur Asia keduanya itu adalah karena budaya wayang yang sangat lekat di Indonesia.
"Saat saya berkunjung ke Jakarta pada 1975 bersama sang pangeran kecil, saya bertemu dengan sekitar 2.000 dalang, menakjubkan," katanya.
Walaupun mengakui budaya wayang yang sangat mengakar di Indonesia tetapi Meschke mengaku tidak berniat untuk berkolaborasi dengan dalang Indonesia karena khawatir mengacaukan "pakem" wayang yang ada.
"Saya menghormati teknik dan tradisi yang ada di Indonesia, jadi saya tidak dapat berkolaborasi dengan mereka," katanya.
Sang Pangeran Kecil
"The Little Prince" yang diadaptasi dari buku karya penulis kenamaan Perancis, Antoine de Saint-Exupery dan telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 50 bahasa itu adalah karya favorit Meschke.
"Kisah yang sangat luar biasa bagi saya sehingga saya ingin selalu membagi kisah ini dengan banyak anak-anak ataupun orang dewasa di dunia melalui pertunjukan saya," kata Meschke yang telah mementaskan lakon tersebut sejak tahun 70-an.
Kisah tersebut bercerita tentang pengalaman seorang pilot yang harus melakukan pendaratan darurat di sebuah gurun. Di sana dia bertemu dengan seorang pangeran kecil misterius dari negeri 'antah berantah' nun jauh di luar angkasa.
Melalui pangeran kecil tersebut, sang pilot memperoleh banyak pemahaman dan perspektif baru tentang dunia, tentang hal-hal kecil yang sesungguhnya penting.
"Dalam 'Little Prince', ada suatu kisah tentang kematian yang cukup peka bagi anak-anak tetapi Antoine dapat menyampaikannya dengan baik, yaitu dengan mengatakan bahwa tiba saat sang pangeran untuk meninggalkan tubuhnya di gurun dan kembali ke bintang," katanya.
Keistimewaan dari pertunjukan boneka Meschke terutama terletak pada kemampuannya menggabungkan dunia boneka dan orang.
"Di kisah itu ada dua karakter yaitu karakter pilot yang merupakan sosok manusia nyata dan karakter pangeran kecil. Jika semua diwujudkan dalam boneka maka kita tidak akan dapat menangkap esensi yang mau disampaikan sang penulis. Itulah sebabnya saya mempertahankan karakter pilot yang manusia," katanya. Hal itu membuat Magnus Lindberg, pemain si pilot menjadi satu-satunya karakter manusia yang akan tampil di panggung diantara sekitar delapan orang pendukung acara.
Teknik Bunraku
"Untuk menghidupkan pangeran kecil, saya mengambil sedikit teknik Bunraku atau wayang Jepang sehingga anggota badan pangeran kecil dapat bergerak optimal," ujarnya.
Boneka pangeran kecil yang tingginya tidak lebih dari 60 centimeter itu pun dimainkan oleh tiga orang seperti laiknya Bunraku.
Selain Bunraku, Meschke tidak membatasi pergelarannya dalam satu teknik tertentu, dia menggabungkan teknik mengggunakan tali, tongkat dan bayangan dalam karyanya.
"Tidak ada batasan untuk menggunakan teknik khusus, saya memakai berbagai macam teknik untuk mendukung penampilan sebab tidak mudah menghidupkan sebuah benda mati seperti boneka yang tidak bernyawa," katanya. Menghidupkan boneka, agaknya itulah yang akan dilakukan Meschke dalam pertunjukan berdurasi satu jam yang penuh fantasi dan puisi, aktor dan boneka serta perjalanan menembus langit di TIM, 23-24 Febuari 2005. Walaupun secara teknik, boneka "The Little Prince" mungkin tidak akan seekspresif wayang golek Betawi Tizar Purbaya yang juga mengadaptasi teknik Bunraku, tetapi kolaborasi boneka dengan manusia dalam lakon seklasik "The Little Prince" memang cukup unik. T.KJ10 (T.KJ10/B/K002/K002) 23-02-2005 20:16:36
Database Acuan Dan Perpustakaan LKBN ANTARA
Po shfaqen postimet me emërtimin profil. Shfaq të gjitha postimet
Po shfaqen postimet me emërtimin profil. Shfaq të gjitha postimet
e diel, 17 qershor 2007
INSPi

Untuk bikin tulisan ini gue jadi ekor INSPi seharian, capek banget tapi konsernya seru. Untuk pertama kalinya gue lihat grup acapella manggung, tapi sebenernya Jamaica Cafe lebih sip
"INSPi" BER-"VA LI HA LI HA" DALAM ACAPPELLA
Oleh Gusti Nur Cahya Aryani
Berawal dari pertemanan pada masa kuliah di 1997 dan latihan bersama menggunakan lagu "Thank You" dari "Boys II Men", sebuah kelompok musik acappella "tenar" di Jepang, "INSPi" memulai perjalanan karirnya menapaki hingar bingar industri rekaman.
Meskipun dalam riuh rendah industri musik, acappella atau musik mulut, belum sepopuler pop, rock atau jazz di telinga para penikmat musik dan bahkan bagi beberapa golongan, acappella identik dengan musik rohani tetapi hal itu ternyata bukan halangan bagi "INSPi" untuk terus menekuninya.
"Kami senang beracappella, karena ini adalah keinginan kami sejak dahulu. Kami ingin dapat memainkan musik yang menghargai segala jenis suara, dan itu kami temukan dalam acappella," kata "INSPi", kelompok musik asal negeri Sakura itu.
Kelompok musik yang digawangi oleh enam pemuda yaitu Takehiko Kita, Shinji Okumura, Tomoyuki Okura, Atsushi Sugita, Akira Tsukata, dan Takafumi Watanabe itu mengungkapkan kecintaan mereka terhadap acappella, musik yang telah mereka ditekuni selama tujuh tahun lalu.
"Bahkan orang yang memiliki suara rendah seperti saya sehingga sedikit sulit apabila ingin membawakan lagu-lagu hits di Jepang pun mampu turut ambil bagian dalam acappella," kata sang vokalis bass, Akira Tsukata. Tentu saja Tsukata merendah dengan pernyataannya tersebut karena pada saat tampil dirinya dan Watanabe selalu mendapat sambutan meriah dari para penonton yang terheran-heran melihat kemampuan vokal mereka menirukan bunyi bass dan bass drum.
Walaupun acappella yang dimainkan oleh "INSPi" masih menitikberatkan pada paduan suara dan kekuatan vokal para vokalisnya yaitu Kita, Okumura, Okura dan Sugita, tetapi tampak enerjik dan ritmik dengan keahlian Tsukata dan Watanabe, sang vokal perkusi, mengiringi setiap lagu.
"Kami ingin makin banyak orang yang mencintai acappella. Untuk itulah kami ingin mengajak semua orang bersenang-senang dengan musik ini," kata Okura.
"INSPi" dan Karir
Karir "INSPi" dibangun sejak 1997 saat para personilnya masih duduk di bangku kuliah dengan mengusung nama "Inspiritual Voices".
Untuk memudahkan publik menyebut mereka maka kala menggelar konser 'live' pertama pada 24 Agustus 1998, mereka meresmikan nama "INSPi" sebagai nama kelompok mereka yang baru. "INSPi berasal dari kata inspiritual, agar tidak terlalu panjang dan mudah diingat maka kami pendekkan menjadi INSPi," ujar Tsukata. Sambutan publik Jepang yang sangat baik, membuat satu demi satu 'single' pun diluncurkan oleh "INSPi", beberapa di antaranya yang cukup populer adalah Cicada's Love Song dan I do.
Sekalipun formasi "INSPi" yang sekarang berbeda dengan saat pertama kali dibentuk tetapi secara khusus Okura mengatakan bahwa hal itu tidak berpengaruh banyak pada musik "INSPi".
Dia juga mengatakan bahwa formasi kali ini adalah yang terbaik. "Pergantian personil terjadi ketika kami lulus kuliah karena tidak semua ingin memantapkan karir dalam dunia musik acappella dan kesibukan yang berbeda. Personil yang terakhir bergabung adalah Shinji pada 2002," ujarnya.
Dengan formasi baru, INSPi meluncurkan album pertama mereka yang bertajuk "Inspiritual Voices" pada 26 Juni 2002 dengan lagu andalan What's My Life. Kesuksesan album pertama disusul dengan album kedua yang bertajuk "Va Li Ha Li Ha" (2003) dan "INSPi Roman" (2004). Ketika ditanya lebih lanjut tentang maksud dari "Va Li Ha LI Ha", lagu andalan mereka dari album kedua, Sugita mengatakan bahwa secara khusus kata tersebut tidak berarti.
"Itu hanya bunyi, tidak ada artinya. "INSPi" hanya ingin membuat 'image' bahwa setiap orang bisa bahagia dengan bunyi atau musik," ujar vokalis berusia 26 tahun itu. Sedangkan "INSPi Roman", meninabobokkan kaum pecinta dengan satu lagu cantik yang bertajuk "Konohoshino Komoriuta" atau "Nina Bobo di Planet Kita". "Rencananya pada musim panas atau musim gugur tahun ini kami akan memgerjakan album ke empat kami, tetapi untuk judulnya kami belum tentukan," kata Sugita.
Sementara itu sepulang dari tur di Indonesia, sebuah konser keliling Jepang telah menanti "INSPi" di bulan Maret 2005 dalam rangka promosi album ketiga mereka.
"INSPI" dan Fans
Mungkin terlalu dini menyebut ratusan orang yang memadati konser mereka di tiga kota di Indonesia, yaitu Makassar, Jakarta dan Yogyakarta sebagai penggemar atau fans, tetapi tepukan panjang dari penonton sepanjang konser membuktikan bahwa apa yang ditampilkan "INSPi" meninggalkan kesan mendalam di benak penikmatnya. "Kami suka spontanitas publik Indonesia, apabila lagu yang kami mainkan bagus mereka tidak segan bertepuk tangan di tengah lagu, hal itu membuat kami lebih semangat bernyanyi," kata Okura.
Menurut dia, spontanitas itu merupakan hal yang positif sekalipun juga menimbulkan beban tersendiri karena reaksi penonton dapat langsung terlihat dengan jelas. "Orang Indonesia lebih ramah, kami merasa disambut baik di sini, suatu pengalaman yang indah," kata Okura yang mengaku bahwa "INSPi" pernah tampil di Amerika sewaktu mahasiswa. Ekspresi penonton di Indonesia, kata Sugita menambahkan, seakan mengajak untuk bersenang-senang bersama-sama.
"Kami juga dapat pengalaman yang menyenangkan kala menggelar konser mini di hadapan anak-anak Sanggar Anak Akar. Anak-anak tampak sangat gembira dan menikmati pertunjukan. Keakraban itu dapat terbangun karena kami bernyanyi bersama," katanya.
Pada kesempatan itu, Watanabe, sang vokalis perkusi yang selalu mendapatkan tatapan kagum dari para penonton karena keahliannya menirukan bunyi "drum set" mengatakan bahwa dapat tampil di Indonesia adalah suatu kebanggaan karena selama ini publik "INSPi" adalah orang-orang Jepang. "Melihat reaksi publik Indonesia adalah pengalaman baru yang bagus dan menyenangkan," kata Okura yang tampak berusaha keras untuk selalu mengucapkan berbagai istilah dalam Bahasa Indonesia dalam setiap penampilannya. Sebuah pertunjukan profesional yang ditangani dengan serius kala "INSPi" tampil di Sanggar Anak Akar (SAA) dengan penonton tidak lebih dari 50 orang menunjukkan bagaimana "INSPi" menghargai setiap penontonnya.
"Kami senang jika orang bahagia karena musik kami, tidak peduli siapa dan di mana," ujar Kita yang juga menyebutkan bahwa sejak awal "INSPi" memang menginginkan dapat tampil secara khusus untuk anak-anak sehingga merasa sangat senang bisa berbagi cerita dengan anak-anak SAA.
Di Jepang sendiri popularitas "INSPi" meningkat tajam sejak tampil dalam acara Fuji television pada Mei 2001.
"INSPi" dan Indonesia
"Ini adalah kunjungan kedua kami ke Jakarta setelah J-ASEAN Pops Concert di Jakarta Oktober 2003," kata Okura yang sempat cemas jika rencana konser mereka batal karena bencana tsunami yang melanda Aceh dan Sumatra Utara di penghujung 2004.
Dan, Okura menambahkan, di Indonesia juga untuk pertama kalinya "INSPi" menggelar konser 'live' di luar negeri. Oleh karena itu, sebagai penghargaan dan simpati terhadap bencana tsunami yang terjadi di Indonesia, "INSPi" menciptakan sebuah lagu khusus untuk publik Indonesia yang berjudul "Akar Hati" atau "Kokorono Nekko". "Sebenarnya jika jadwal yang tidak padat, kami ingin sekali melihat-lihat keindahan negeri ini," kata Sugita yang mengaku belum pernah ke Bali.
Menurut pemuda berkacamata itu, salah satu tempat yang sangat ingin mereka kunjungi adalah Candi Borobudur. "Kami akan tinggal dua hari di Yogya, jadi kami harap dapat mengunjungi Borobudur dan mungkin juga Kraton di sela-sela jadwal pementasan pada 13 Febuari nanti," ujarnya sambil sibuk menghafalkan ucapan selamat malam dan terima kasih dalam Bahasa Jawa.
Susah payah, Sugita melafalkan ucapan "Sugeng Ndalu" untuk selamat malam dan "Matur Nuwun" untuk terima kasih.
"Musik memang universal tidak mengenal batasan bahasa tetapi akan lebih menyenangkan jika bisa menyapa penonton kami dengan bahasa mereka," ujar Okura yang dikenal paling getol menggunakan Bahasa Indonesia walaupun patah-patah.
Sementara itu setengah bercanda, Kito mengatakan bahwa mengunjungi Indonesia membuat meraka melompat dari musim dingin ke musim panas tanpa melewati musim semi. "Ketika kami berangkat dari Jepang, di sana masih musim dingin tapi tiba-tiba kala kami mendarat di Indonesia langsung disambut terik sinar matahari," ujarnya.
Dan walaupun melewatkan sejuknya musim semi, bukan halangan bagi "INSPi" untuk mengajak publik Indonesia ber"va li ha li ha" dengan acappella, termasuk mempersembahkan lagu andalan mereka, Konohoshino Komoriuta, dalam Bahasa Indonesia.
T.KJ10 (T.KJ10/B/K002/K002) 12-02-2005 15:33:05
Database Acuan Dan Perpustakaan LKBN ANTARA
Database Acuan Dan Perpustakaan LKBN ANTARA
Marlupi Sijangga

Hasil kerja keras gue mantengin balet ...hehehe
JEJAK LANGKAH MARLUPI SIJANGGA DALAM DUNIA BALET INDONESIA
Oleh Gusti Nur Cahya Aryani
Empat puluh sembilan tahun yang lalu Marlupi Sijangga mungkin tidak akan pernah menduga jika sekolah balet yang dirintisnya sejak usia lima belas tahun akan sebesar kini dan menciptakan taburan penari-penari berbakat di Indonesia. Salah satu di antara mereka adalah Yanti Marduli.
Dia pulalah satu-satunya penari balet Indonesia yang ikut serta dalam kompetisi Genee Award di Sydney Opera House pada 2002.
Menurut Marlupi, kecintaannya terhadap tari balet diawali saat ia tertarik memperhatikan gerakan noni-noni Belanda yang sedang belajar balet, sayangnya keinginan Marlupi untuk mengikuti kursus balet klasik ditentang orang tuanya, sehingga ia terpaksa mencuri uang dari ibunya.
"Tidak mudah untuk meyakinkan orang tua saya bahwa saya sungguh-sungguh ingin belajar balet sekitar tahun 1950-an," kata Marlupi.
Berbeda dengan gambyong, serimpi atau beberapa jenis tarian lain yang banyak dipelajari oleh generasi muda di era itu, balet adalah sebuah budaya impor yang jamaknya belum lazim di kalangan masyarakat luas. Tetapi usaha dan kesungguhan Marlupi tidak sia-sia karena akhirnya mampu meluluhkan hati kedua orang tuanya sehingga mereka mengizinkan Marlupi menekuni balet.
"Jadi karir saya dalam dunia balet berawal secara otodidak," kata Marlupi yang gaya baletnya sedikit banyak berkiblat pada balet Rusia saat itu.
Berbekal kemampuan yang diperolehnya secara otodidak itu Marlupi mendirikan Marlupi Dance Academy (MDA) pada 1956 di usia 15 tahun.
Perjalanan Marlupi mengukuhkan eksistensinya di dunia balet Indonesia, penuh kerja keras. Sepanjang hidupnya, dia tidak pernah berhenti belajar meningkatkan kemampuannya. Berkat dukungan dari anaknya, Fifi Sijangga, Marlupi kemudian kursus mengajar balet di Royal Academy of Dance dan berhasil memperoleh sertifikat di London ketika usianya mencapai 60 tahun.
Sertifikat tersebut mengesahkan Marlupi sebagai pengajar tari balet profesional. Sementara itu agar tidak tertinggal isu terbaru tentang balet, secara khusus Marlupi rajin mengikuti perkembangan dan mempelajari teknik-teknik baru hingga ke Amerika, Jerman, Inggris, Singapura, dan Shanghai, untuk kemudian dikembangkan di sekolahnya.
Kegigihan itulah yang kemudian ditularkannya pada murid-muridnya di MDA. Marlupi dikenal aktif mendorong murid-muridnya menjadi penari andal di usia muda, dengan mengikutsertakan mereka pada festival-festival balet.
"Bagi seorang penari pengalaman sangat penting, dengan aktif mengikuti festival tingkat nasional atau internasional maka wawasan akan terbuka," kata peraih Adhi Karya Award itu.
MDA
Kini Menurut Marlupi, kini MDA yang telah dirintisnya dengan susah payah di Surabaya selama hampir setengah abad telah menjelma menjadi salah satu akademi tari yang diakui di Indonesia.
Dengan sekitar 50 pengajar pilihan yang tersebar di 20 studio cabang dan dua studio utama yang terletak di Surabaya dan Jakarta, MDA konsisten memajukan dunia balet Indonesia. Salah satu caranya dengan mengadopsi sistem pengajaran balet klasik dari Royal Academy of Dance-London (RAD) serta sistem pengajaran 'fitness' atau senam dari Internasional of Fitness Proffesionals-San Diego, California (IDEA), di mana kini Marlupi juga menjadi anggota, agar mampu bersaing di dunia balet internasional.
"Terutama agar kualitas pengajaran balet kita dapat setara dengan yang diajarkan di dunia balet internasional," ujar peraih Best Executif Award dari Singapura pada 1982 itu. Dengan dukungan dari anaknya, Fifi, yang juga merupakan presenter acara kebugaran di salah satu televisi swasta, Marlupi terus berusaha agar MDA mampu untuk tetap unjuk gigi di kancah balet nasional maupun internasional.
Kekonsistenan untuk menjaga kualitas tersebut terus berlanjut dengan mengikutkan para siswanya ujian ke Singapura, yang ijazahnya diakui Royal Academy of Dance, London.
Karya Besar
"Melalui pementasan Nutcracker-The Story of Clara ini, kami ingin menunjukkan pada publik betapa indahnya tarian balet klasik, irama musik, perasaan serta pemahaman yang berpadu sehingga menghasilkan alur cerita yang indah," kata Marlupi ketika ditemui di belakang panggung saat pergelaran balet MDA di Gedung Kesenian Jakarta, 29 Januari 2005.
Setelah sukses dengan pementasan "The Dreams" (Colours, 2003) dan beberapa repertoar, MDA ingin memberi bukti akan kemampuannya menggelar sebuah cerita balet secara utuh melalui Nutcracker-The Story of Clara.
Marlupi juga mengatakan bahwa sekalipun telah aktif menggelar pertunjukan sejak 1960-an, nama MDA baru dikenal luas oleh dunia balet nasional sejak pementasan balet pertamanya pada pembukaan Taman Budaya Jatim, Surabaya, 1976.
Seusai kisah sukses itu, prestasi demi prestasi pun diraih oleh MDA, beberapa diantaranya adalah juara pertama balet dan juara kedua jazz duo di "Dance Caravan Competition Los Angeles" dan "Tremaine, New York", serta juara pertama tari balet dan jazz di "I Love Dance Competition Las Vegas".
"Jangan pernah puas dan berhenti pada satu keberhasilan, terus berkarya untuk memberikan yang terbaik bagi kemajuan dunia balet Indonesia adalah salah satu motivasi terbesar saya," ujar wanita yang tampak tetap penuh semangat di usianya yang telah lebih dari60 tahun itu.
Dan seperti kata peraih Karier dan Prestasi Pria wanita 1996 itu, balet memang boleh jadi sebuah budaya impor tetapi bukan berarti generasi Indonesia tidak mampu melakonkannya sebaik mereka.
Dunia telah berubah, ruang dan waktu bukan lagi batas, seni pun menjadi semakin universal dan tak terpetakan. Gamelan di tangan wajah-wajah aria ataupun balet dalam gemulai langkah kaki-kaki ras melayu menjadi buktinya.
T.KJ10 (T.KJ10/B/K002/K002) 04-02-2005 19:25:33
Database Acuan Dan Perpustakaan LKBN ANTARA
Database Acuan Dan Perpustakaan LKBN ANTARA
Tentang Trisna
Ini tulisan humaniora gue yang pertama, pengalaman pertama gue ngobrol ma anak-anak jalanan. Gue ga tahu bocah-bocah itu bohong ato tidak untuk semua jawaban yang mereka lontarkan, soalnya kadang mereka tampak rada ga nyambung.
TRISNA, GENERASI YANG TERSESAT DI SUDUT GELAP STASIUN
Oleh Gusti Nur Cahya Aryani
Malam belum lagi larut, 20.00 WIB, ketika sepasang kaki telanjang memasuki gerbong kereta api bisnis jurusan Jakarta-Yogyakarta sehingga meninggalkan jejak kaki penuh lumpur di tangga besi itu.
Di pintu masuk gerbong, pemilik sepasang kaki tersebut menatap sekilas kerumunan penumpang yang sibuk merapikan barang-barang bawaan sebelum kemudian dia bersimpuh di kursi terdekat.
Usianya mungkin belum lagi genap 10 tahun apabila menilik dari raut wajah dan tinggi tubuhnya yang tidak lebih dari 140 centimeter.
Sementara itu tubuh kurusnya yang terkesan kotor hanya terbungkus selembar kaos dan celana pendek dekil yang tidak lagi menyisakan warna aslinya, entah putih, kuning atau abu-abu sedangkan tangan kanannya menggenggam sebuah sapu kecil bertangkai biru.
Detik berikutnya bocah kecil itu mulai memainkan sapunya mencoba mengumpulkan kotoran di lantai gerbong kereta yang tampak bersih itu.
Bersih, karena sejauh mata memandang dari kursi nomor 1-A hingga nomor 20-D tidak tampak sehelai tisu bekas pun, yang ada hanyalah jejak noda bekas sepatu para penumpang yang lalu lalang.
Seakan tidak peduli, sambil berjongkok bocah kecil itu tetap "berlagak" membersihkan lantai dan koridor kereta.
Setiap usai memainkan sapunya di lantai depan kursi tertentu dia mengangsurkan tangan kanannya yang berkuku hitam itu untuk meminta upah dari penumpang atas "hasil kerjanya" itu.
Beberap orang penumpang kemudian memberikan sejumlah uang logam atau selembar ribuan ke tangan itu sebelum kemudian kembali dengan kesibukannya masing-masing seakan menganggap pemandangan seperti itu layak, menyaksikan seorang bocah keluyuran di gerbong kereta di hari yang tidak lagi terang. Sementara itu sejumlah orang yang tampak terganggu dengan tingkah sang bocah terlihat menyodorkan keping logam sambil menggerutu.
"Menyebalkan, sudah tahu lantai bersih masih juga berlagak menyapu, mana mintanya setengah memaksa lagi, tidak mau beranjak pergi kalau belum dikasih," kata Retno Astuti, salah seorang penumpang yang sibuk mengurus bayinya.
Tetapi seakan tidak peduli dengan gerutuan dari ibu itu, bocah lelaki berkulit coklat gelap tersebut tetap meneruskan kegiatannya. "Untuk beli makan, Bu, Pak," kata si bocah kepada setiap penumpang dengan ekspresi memelas.
Namanya Trisna
Trisna. Begitu, bocah lelaki itu mengaku ketika ditanya siapa namanya sekalipun dia tidak lagi ingat berapa usianya. Menurut Trisna, pekerjaan sebagai tukang sapu gerbong telah dilakoninya lebih kurang setahun lalu.
Dan detik berikutnya kisah demi kisah pun terlontar dari bibir Trisna. Tentang seorang kakak laki-lakinya yang menjadi pengamen, tentang ibunya yang seorang pengumpul barang bekas, dan sosok bapak yang tidak pernah dikenalnya.
"Tetapi sejak Pemilu Presiden kemarin saya sudah tidak pernah bertemu ibu dan kakak lagi," ujarnya.
Sewaktu pemilu kebetulan Trisna tinggal di stasiun Tugu Yogyakarta selama satu bulan dan siapa sangka ketika kembali ke Jakarta dia tidak lagi menemukan ibu dan kakaknya di kawasan Senen, Jakarta Pusat. "Ibu tidak ada lagi di sana, mungkin telah pindah karena dulu kami pun biasa berpindah-pindah," katanya ringan tanpa sebersit nada penyesalan pun dalam suara beningnya.
Menyedihkan melihat bola mata hitam itu tidak lagi menyisakan kerinduan sedikit pun pada sosok seorang ibu.
Tanpa ibu dan kakaknya, Trisna kini tinggal nomaden dari stasiun ke stasiun, tertidur melepas lelah di sudut-sudut gelap stasiun yang disinggahinya di antara derap kaki penumpang yang lalu-lalang dalam bising suara gerigi besi roda kereta api yang beradu dengan rel.
"Tidak selalu di Jakarta, kadang di Semarang, Surabaya, Yogyakarta atau Purwokerto tetapi paling suka di Yogyakarta karena dekat Malioboro dan banyak bule," ujarnya.
Menadahkan Tangan
Sedari lahir, bocah seperti Trisna mungkin memang hanya tahu bagaimana caranya menadahkan tangan untuk bertahan di dunia.
"Saya tidak bisa membaca karena tidak pernah sekolah, tetapi tidak ada gunanya juga saya bisa baca yang penting bisa makan," katanya.
Hidup di jalanan, beralaskan bumi dan beratap langit, beku oleh dinginnya malam yang menusuk tulang, serta panas terpanggang terik sinar matahari membuat slogan wajib belajar sembilan tahun dari pemerintah seakan lelucon belaka di telinga Trisna dan teman-teman senasibnya.
"Pokoknya bisa makan, kerja apa saja. Saya biasa minta-minta, mengamen di angkutan atau menyapu gerbong," ujar Trisna singkat sambil mengunyah sebatang coklat yang disodorkan kepadanya.
Jika sedang beruntung, menurut Trisna sehari dia dapat memperoleh uang sampai Rp15 ribu, tetapi jika sedang sial Rp5 ribu pun susah sekali memperolehnya.
Hidup seorang diri di jalanan bukan tanpa resiko, sekalipun mengaku belum pernah mendapat perlakuan kasar dari "preman" atau anak-anak yang lebih besar tetapi Trisna mengakui bahwa saat terberatnya muncul jika dia jatuh sakit.
"Kalau tidak enak badan, terkadang lapar seharian tapi tidak bisa cari uang," ujar Trisna polos.
Dan kisah demi kisah tentang kehidupannya yang tampak sia-sia untuk dijalani pun terus meluncur dari mulut Trisna tanpa sepatah kata duka dan penyesalan pun terucap.
Berlagak Dewasa
Trisna tidak sendiri, dia mengaku banyak anak-anak seusianya yang juga tinggal di jalanan tanpa orang tua atau saudara, menyandarkan hidup pada belas kasihan orang yang lalu-lalang di stasiun.
Bocah-bocah mungil itu adalah generasi bangsa yang hilang yang menatap polos pada tegaknya bangunan-bangunan megah dan mall-mall mewah yang terus bermunculan tanpa pernah mengerti arti sebagai anak bangsa.
"Saya bisa hidup seorang diri, tidak perlu ibu atau siapa pun. Tapi kalau cewek mungkin perlu juga," katanya dengan nada berseloroh ketika ditanya tentang kesendiriannya.
Trisna mungkin memang baru berusia sekitar 10 tahun tetapi dia telah berceloteh banyak tentang pergaulan bebas yang dilakoninya setahun dua tahun terakhir.
Melihat caranya bertutur, menatap pada bening bola matanya, dan jemari kotor yang merangkum permen dan coklat itu ke dalam mulutnya, sungguh Trisna hanya seorang bocah, sekalipun dia berceloteh banyak tentang pergaulan bebas yang dijalaninya.
Trisna, bocah itu berlagak dewasa karena lingkungannya memang menempanya untuk seperti itu. Dunia yang ditempatinya sedetik pun tidak pernah mengizinkan Trisna untuk bersikap laiknya bocah 10 tahun. Oleh karena itu ketika dua lembar uang Rp20 ribu diselipkan di jemari tangannya, Trisna setengah terburu-buru memasukkan uang tersebut ke dalam kantong celananya sebelum kemudian mengucapkan terima kasih singkat dan menghambur keluar gerbong meninggalkan lima pasang kursi yang belum lagi selesai "disapunya". Dan ketika kereta mulai beranjak perlahan, di antara ramainya orang di stasiun Pasar Senen malam itu, seorang bocah yang tengah dikerumuni anak-anak sebayanya terlihat melambai ke arah kereta dengan sebatang rokok terselip di bibirnya.
Dia adalah Trisna, seorang bocah yang memang dipaksa untuk dewasa atau hanya berlagak dewasa?
T.KJ10 (T.KJ10/B/K002/K002) 24-01-2005 19:37:30
Database Acuan Dan Perpustakaan LKBN ANTARA
TRISNA, GENERASI YANG TERSESAT DI SUDUT GELAP STASIUN
Oleh Gusti Nur Cahya Aryani
Malam belum lagi larut, 20.00 WIB, ketika sepasang kaki telanjang memasuki gerbong kereta api bisnis jurusan Jakarta-Yogyakarta sehingga meninggalkan jejak kaki penuh lumpur di tangga besi itu.
Di pintu masuk gerbong, pemilik sepasang kaki tersebut menatap sekilas kerumunan penumpang yang sibuk merapikan barang-barang bawaan sebelum kemudian dia bersimpuh di kursi terdekat.
Usianya mungkin belum lagi genap 10 tahun apabila menilik dari raut wajah dan tinggi tubuhnya yang tidak lebih dari 140 centimeter.
Sementara itu tubuh kurusnya yang terkesan kotor hanya terbungkus selembar kaos dan celana pendek dekil yang tidak lagi menyisakan warna aslinya, entah putih, kuning atau abu-abu sedangkan tangan kanannya menggenggam sebuah sapu kecil bertangkai biru.
Detik berikutnya bocah kecil itu mulai memainkan sapunya mencoba mengumpulkan kotoran di lantai gerbong kereta yang tampak bersih itu.
Bersih, karena sejauh mata memandang dari kursi nomor 1-A hingga nomor 20-D tidak tampak sehelai tisu bekas pun, yang ada hanyalah jejak noda bekas sepatu para penumpang yang lalu lalang.
Seakan tidak peduli, sambil berjongkok bocah kecil itu tetap "berlagak" membersihkan lantai dan koridor kereta.
Setiap usai memainkan sapunya di lantai depan kursi tertentu dia mengangsurkan tangan kanannya yang berkuku hitam itu untuk meminta upah dari penumpang atas "hasil kerjanya" itu.
Beberap orang penumpang kemudian memberikan sejumlah uang logam atau selembar ribuan ke tangan itu sebelum kemudian kembali dengan kesibukannya masing-masing seakan menganggap pemandangan seperti itu layak, menyaksikan seorang bocah keluyuran di gerbong kereta di hari yang tidak lagi terang. Sementara itu sejumlah orang yang tampak terganggu dengan tingkah sang bocah terlihat menyodorkan keping logam sambil menggerutu.
"Menyebalkan, sudah tahu lantai bersih masih juga berlagak menyapu, mana mintanya setengah memaksa lagi, tidak mau beranjak pergi kalau belum dikasih," kata Retno Astuti, salah seorang penumpang yang sibuk mengurus bayinya.
Tetapi seakan tidak peduli dengan gerutuan dari ibu itu, bocah lelaki berkulit coklat gelap tersebut tetap meneruskan kegiatannya. "Untuk beli makan, Bu, Pak," kata si bocah kepada setiap penumpang dengan ekspresi memelas.
Namanya Trisna
Trisna. Begitu, bocah lelaki itu mengaku ketika ditanya siapa namanya sekalipun dia tidak lagi ingat berapa usianya. Menurut Trisna, pekerjaan sebagai tukang sapu gerbong telah dilakoninya lebih kurang setahun lalu.
Dan detik berikutnya kisah demi kisah pun terlontar dari bibir Trisna. Tentang seorang kakak laki-lakinya yang menjadi pengamen, tentang ibunya yang seorang pengumpul barang bekas, dan sosok bapak yang tidak pernah dikenalnya.
"Tetapi sejak Pemilu Presiden kemarin saya sudah tidak pernah bertemu ibu dan kakak lagi," ujarnya.
Sewaktu pemilu kebetulan Trisna tinggal di stasiun Tugu Yogyakarta selama satu bulan dan siapa sangka ketika kembali ke Jakarta dia tidak lagi menemukan ibu dan kakaknya di kawasan Senen, Jakarta Pusat. "Ibu tidak ada lagi di sana, mungkin telah pindah karena dulu kami pun biasa berpindah-pindah," katanya ringan tanpa sebersit nada penyesalan pun dalam suara beningnya.
Menyedihkan melihat bola mata hitam itu tidak lagi menyisakan kerinduan sedikit pun pada sosok seorang ibu.
Tanpa ibu dan kakaknya, Trisna kini tinggal nomaden dari stasiun ke stasiun, tertidur melepas lelah di sudut-sudut gelap stasiun yang disinggahinya di antara derap kaki penumpang yang lalu-lalang dalam bising suara gerigi besi roda kereta api yang beradu dengan rel.
"Tidak selalu di Jakarta, kadang di Semarang, Surabaya, Yogyakarta atau Purwokerto tetapi paling suka di Yogyakarta karena dekat Malioboro dan banyak bule," ujarnya.
Menadahkan Tangan
Sedari lahir, bocah seperti Trisna mungkin memang hanya tahu bagaimana caranya menadahkan tangan untuk bertahan di dunia.
"Saya tidak bisa membaca karena tidak pernah sekolah, tetapi tidak ada gunanya juga saya bisa baca yang penting bisa makan," katanya.
Hidup di jalanan, beralaskan bumi dan beratap langit, beku oleh dinginnya malam yang menusuk tulang, serta panas terpanggang terik sinar matahari membuat slogan wajib belajar sembilan tahun dari pemerintah seakan lelucon belaka di telinga Trisna dan teman-teman senasibnya.
"Pokoknya bisa makan, kerja apa saja. Saya biasa minta-minta, mengamen di angkutan atau menyapu gerbong," ujar Trisna singkat sambil mengunyah sebatang coklat yang disodorkan kepadanya.
Jika sedang beruntung, menurut Trisna sehari dia dapat memperoleh uang sampai Rp15 ribu, tetapi jika sedang sial Rp5 ribu pun susah sekali memperolehnya.
Hidup seorang diri di jalanan bukan tanpa resiko, sekalipun mengaku belum pernah mendapat perlakuan kasar dari "preman" atau anak-anak yang lebih besar tetapi Trisna mengakui bahwa saat terberatnya muncul jika dia jatuh sakit.
"Kalau tidak enak badan, terkadang lapar seharian tapi tidak bisa cari uang," ujar Trisna polos.
Dan kisah demi kisah tentang kehidupannya yang tampak sia-sia untuk dijalani pun terus meluncur dari mulut Trisna tanpa sepatah kata duka dan penyesalan pun terucap.
Berlagak Dewasa
Trisna tidak sendiri, dia mengaku banyak anak-anak seusianya yang juga tinggal di jalanan tanpa orang tua atau saudara, menyandarkan hidup pada belas kasihan orang yang lalu-lalang di stasiun.
Bocah-bocah mungil itu adalah generasi bangsa yang hilang yang menatap polos pada tegaknya bangunan-bangunan megah dan mall-mall mewah yang terus bermunculan tanpa pernah mengerti arti sebagai anak bangsa.
"Saya bisa hidup seorang diri, tidak perlu ibu atau siapa pun. Tapi kalau cewek mungkin perlu juga," katanya dengan nada berseloroh ketika ditanya tentang kesendiriannya.
Trisna mungkin memang baru berusia sekitar 10 tahun tetapi dia telah berceloteh banyak tentang pergaulan bebas yang dilakoninya setahun dua tahun terakhir.
Melihat caranya bertutur, menatap pada bening bola matanya, dan jemari kotor yang merangkum permen dan coklat itu ke dalam mulutnya, sungguh Trisna hanya seorang bocah, sekalipun dia berceloteh banyak tentang pergaulan bebas yang dijalaninya.
Trisna, bocah itu berlagak dewasa karena lingkungannya memang menempanya untuk seperti itu. Dunia yang ditempatinya sedetik pun tidak pernah mengizinkan Trisna untuk bersikap laiknya bocah 10 tahun. Oleh karena itu ketika dua lembar uang Rp20 ribu diselipkan di jemari tangannya, Trisna setengah terburu-buru memasukkan uang tersebut ke dalam kantong celananya sebelum kemudian mengucapkan terima kasih singkat dan menghambur keluar gerbong meninggalkan lima pasang kursi yang belum lagi selesai "disapunya". Dan ketika kereta mulai beranjak perlahan, di antara ramainya orang di stasiun Pasar Senen malam itu, seorang bocah yang tengah dikerumuni anak-anak sebayanya terlihat melambai ke arah kereta dengan sebatang rokok terselip di bibirnya.
Dia adalah Trisna, seorang bocah yang memang dipaksa untuk dewasa atau hanya berlagak dewasa?
T.KJ10 (T.KJ10/B/K002/K002) 24-01-2005 19:37:30
Database Acuan Dan Perpustakaan LKBN ANTARA
Abonohu te:
Postimet (Atom)